Total Pageviews

Sunday, May 31, 2015

Dana 1,5 Triliun Segera Cair, PT PAL Siap Produksi Kapal Selam

Konstruksi fregat PKR10514 di PT PAL (photo : Erich Saumeth)

Liputan6.com, Surabaya - Dana senilai 1,5 triliun dari Pemerintah Pusat siap digelontorkan pemerintah kepada PT PAL Indonesia (Persero) pada minggu depan. Dengan turunnya dana tersebut PT PAL siap mengerjakan proyek pembuatan kapal selam.

Kepala Staf Kepresidenan, Luhut Binsar Panjaitan menjelaskan, proses pencairan dana Rp 1,5 triliun untuk PT PAL sudah sampai di Sekretariat Negara dan sudah diajukan kepada presiden. "Kami harapkan by next weeks sudah bisa cair, turun Rp 1,5 triliun untuk proses pembuatan kapal selam," tuturnya, Kamis (28/5/2015).

Direktur Utama PT PAL Indonesia,  M. Firmansyah Arifin juga menegaskan bahwa dana tersebut untuk proses pembuatan kapal selam. "Itu untuk proses pembuatan kapal selam. Dan bisa dilihat, proses pembuatan kapal selam sudah mulai jalan," katanya.

Dia menambahkan, PT PAL saat ini sudah melakukan berbagai macam inovasi diantaranya adalah merevitalisasi peralatan produksi dan penataan sumber daya sehingga perusahaan tersebut kembali menggeliat dan diperhitungkan dikancah nasional hingga internasional.


Konstruksi LPD SSV Philipina di PT PAL (photo : Gombaljaya)

"Selain tekad yang kuat dalam mendukung perkembangan industri maritim, saat ini kami sedang dalam proses pengerjaan proyek 2 kapal PKR pesanan Kementerian Pertahanan RI yang bekerjasama dengan DAMEN, Belanda dan 2 kapal SSV pesanan Angkatan Laut Filipina," tandasnya. 

Luhut juga mengatakan, selain mendapat kucuran dana Rp 1,5 triliun, PT PAL juga akan mendapatkan suntikan dana dari pemerintah senilai Rp 25 triliun. Dana tersebut akan digelontorkan dalam 5 tahun ke depan yang bakal digunakan oleh perseroan untuk memproduksi 500 unit kapal niaga.

Menurut Luhut, setelah mengadakan inspeksi ke pabrik PT PAL dan melihat fasilitas yang dimiliki oleh PT Pal, ia melihat bahwa kucuran dana Rp 25 triliun tersebut memang pantas didapat oleh perseroan. Pasalnya, semua sarana dan prasarana pembuatan kapal telah dimiliki oleh PT PAL. 

"Tadi saya lihat ada fasilitas untuk pembuatan kapal perang, kapal kawal rudal dan semuanya. Jadi mulai dari nol semuanya dipersiapkan oleh anak bangsa," tuturnya. 

Dia menambahkan, langkah pemberian dana kepada PT PAL tersebut sesuai dengan misi Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) yang memang mengedepankan produk dalam negeri sehingga menciptakan lapangan kerja. "Tapi tentunya harus memperhatikan kualitas kontrol dari produk kapal itu sendiri," tandasnya.

Sumber: (Liputan6)

Friday, May 29, 2015

Analisis: Ketika Ruang Kerjasama Dibuka Luas

Kunjungan Menhan RI Ryamizard Ryacudu ke AS melintasi Lautan Pasifik singgah di Hawaii baru kemudian ke Washington DC tanggal 07 sampai dengan 15 Mei 2015 bukanlah sekedar kunjungan basa basi. Di Hawaii Menhan bertemu dengan dua komandan Pasifik yaitu komandan Armada dan komandan Angkatan Darat, dua komando yang bertanggung jawab terhadap gejolak dan huru hara keamanan di sepertiga cekungan bumi.
Intinya adalah AS tentu harus terus menerus merayu  Indonesia sebagai bumper utama jika terjadi huru hara di Laut Cina Selatan (LCS). Cara AS menghadapi musuh atau saingannya adalah dengan membentuk aliansi pertahanan atau aliansi serang lawan.  Selalu bernuansa keroyokan, begitu gayanya, hampir tak pernah berkelahi sendirian dan tak pernah jua berkelahi di rumah sendiri. Nah Indonesia harus diajak untuk ikut dalam barisan aliansinya.
Armada laut Indonesia, harus selalu siap sedia
Kali ini lawan potensial yang bakal di hadapi di “hari kemudian” adalah Cina,   sosok naga yang makin menunjukkan taring kekuatan ekonomi dan militer yang tak terbendung lagi.  Musuh masa depan AS yang sesungguhnya adalah Cina.  Itu sebabnya mulai tahun kemarin AS secara bertahap memindahkan perangkat dan armada militernya ke kawasan Asia Pasifik sampai mencapai 60% kekuatan yang ada di seluruh dunia.
Indonesia sebagai pemilik teritori kepulauan yang memisahkan Lautan Pasifik dan Lautan India punya peran strategis untuk operasi militer skala besar di LCS jika huru-hara itu benar-benar terjadi.  Oleh sebab itu para pemikir strategis AS tentu harus memperhitungkan posisi Indonesia yang luas itu sebagai penyekat dan benteng untuk menghadapi Cina. Australia juga sangat berkepentingan dengan bumper yang bernama Indonesia itu sehingga dia harus baik-baik dan tahan diri.
Saat ini kerjasama pertahanan dengan AS diperluas.  Ada kerjasama konsultasi manajemen pertempuran modern, ada kerjasama cyber war, ada kerjasama pelatihan personel militer, ada kerjasama antar kesatuan militer. AS juga tak pelit lagi menjual alat tempur modernnya seperti helikopter Apache dengan rudal hellfirenya, jet tempur F16 dengan rudal Air to Air dan Air to Surface.  Kemudian ada Heli Chinook dan tawaran F16 blok 60 dan kapal perang OHP Class.
Pembangunan pangkalan militer Cina di LCS
Skenario jika terjadi huru hara di LCS bagi AS dan Australia adalah memanfaatkan teritori Indonesia sebagai medan lintasan armada laut, lintasan jet-jet tempur dan pembom strategis dari selatan. Lebih penting dari itu khasiatnya adalah jangan sampai Indonesia terhasut dengan Cina, jangan sampai Indonesia dipeluk Cina, jangan sampai Indonesia digendong Cina, jangan sampai Indonesia masuk dalam blok Cina. Posisi netral adalah posisi yang paling minimalis di mata AS.
Oleh sebab itu ruang luas untuk kerjasama militer dibuka AS untuk Indonesia. Silakan mau pilih kerjasama model apa, namanya juga lagi mengambil hati.   Ditawarkan kapal perang OHP Class masih jual mahal gak papa, ditawarkan F16 blok mutakhir masih mikir gak papa, ditawarkan PC3 Orion masih merem melek gak papa.  Yang penting ente ikutlah dengan barisan kami sebagai perisai garis depan, begitu yang ada dalam pikiran Pentagon. AS sudah mewanti-wanti bahwa konflik LCS bukan konflik kelas teri dan konflik itu ada di depan halaman kita.
AS, Australia, Jepang, Korsel sejatinya adalah kekuatan pemukul yang mampu menghancurkan kekuatan militer Cina jika terjadi perang terbuka.  Tetapi dengan kondisi sekarang model yang paling disukai adalah dengan model proxy war, mendorong “pelanduk” untuk tampil ke depan sementara si “gajah” petintang petinting di belakang.  Lalu memperbanyak sekutu sebanyak mungkin agar resiko tidak ditanggung sendiri alias ditanggung rame-rame.  Jadi gak rugi sendiri.
Pemikir-pemikir strategis Indonesia sesungguhnya paham dengan dinamika itu.  Ingin berdiri ditengah serba salah karena arena ring pertempuran terimbas ke wilayahnya. Ingin jadi wasit di tengah ring tinju sengketa belum menunjukkan kemampuan diplomasinya, salah-salah malah bisa menjadi korban dari salah seorang petinju. Tetapi kita meyakini bahwa pada saatnya Jakarta bisa memilih yang terbaik dari posisi netralnya saat ini.
Suhu tinggi di LCS hari-hari belakangan ini sangat terasa.  Pengintaian yang dilakukan oleh pesawat Poseidon AS di LCS disikapi dengan reaksi keras oleh Cina.  Pembangunan pangkalan militer Cina di LCS dipastikan akan menciutkan nyali negara lawan klaimnya.  Hanya AS yang mampu menandingi kekuatan Cina. Maka untuk menjawab kemarahan Cina sehubungan dengan insiden Poseidon beberapa hari yang lalu, Juli nanti akan dilakukan latihan militer gabungan antara AS, Australia dan Jepang di LCS melibatkan puluhan ribu pasukan dan berbagai alutsista teknologi terkini.
Kita berpendapat Jakarta harus cepat mengambil langkah antisipatif terhadap kondisi sekitar Natuna yang demamnya semakin meninggi. Perkuatan militer harus dipercepat. Natuna harus dibenahi segera, apakah itu perluasan pangkalan AL dan AU. Percepat pengiriman alutsista. Kapal-kapal perang sekelas Destroyer atau Fregat diperbanyak. Manfaatkan ruang kerjasama militer dengan AS seluas-luasnya. Jangan sampai telat mikir atau berpikir pola makelar.
Tanpa bermaksud mendramatisir, cuaca LCS itu bisa meledak setiap saat.  Segeralah bertindak, perkuat Natuna, perkuat Riau, perkuat Kalimantan.  Mana tuh Kogabwilhan, statusnya masih terdengar mulu, belum terdaftar apalagi diakui atau disamakan.  Masih jauh kan padahal “Belanda” sudah dekat.  Jangan sampai niat awal yang tulus untuk memperkuat “bangsaku” dalam perjalanan kemudian yang terjadi justru memperkuat “bank saku”


Sumber: Jagarin

Thursday, May 28, 2015

KRI Bung Tomo Sukses Luncurkan Rudal Exocet di Laut Jawa

Metrotvnews.com -Laut Jawa: Seorang prajurit TNI AL mengamati uji coba penembakan senjata strategis Rudal Exocet MM-40 Blok II dari kapal jenis Multi Role Light Frigate (MRLF) KRI Bung Tomo (TOM)-357 di Perairan Laut Jawa, Kamis (28/5). Rudal Exocet MM-40 Blok II berdaya jelajah 25 Nautical Mile (NM) dengan sasaran bekas KRI Kupang tersebut untuk meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan operasional dalam mengukur kemampuan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL dalam menjaga keutuhan NKRI. (photos : Antara, Detik, TNI AL)

Jakarta - KRI Bung Tomo-357 melakukan uji coba sistem persenjataannya dengan meluncurkan Rudal Exocet MM-40 Blok II di Laut Jawa. Uji coba ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan sistem senjata armada terpadu (SSAT) yang dimiliki TNI Angkatan Laut. 


Peluncuran rudal Exocet MM-40 Blok II di Perairan Laut Jawa, Kamis (28/5/2015) disaksikan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi yang didampingi sejumlah pejabat Mabes TNI. KRI Bung Tomo yang merupakan kapak perang jenis multi role light frigate (MLRF) dikomandani Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan.

Laksamana Ade Supandi dalam keterangannya mengatakan rudal Exocet MM-40 Blok II merupakan generasi kedua yang dimiliki TNI AL setelah Exocet MM-38. Nantinya TNI AL akan memiliki Blok III sebagai generasi terbaru. 

Selain untuk menguji keandalan rudalnya, uji coba rudal Exocet MM-40, dilakukan juga untuk menguji sistem yang ada di KRI Bung Tomo-357. Uji coba ini penting untuk mengetahui kesiapan tempur KRI Bung Tomo. 


Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur, Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman, mengatakan tahapan-tahapan kegiatan peluncuran rudal Exocet MM-40 Blok II berjalan mulus.

"Penembakan Exocet MM-40 di Laut Jawa bukan satu-satunya uji coba yang dilaksanakan TNI Angkatan Laut. Karena dilakukan juga uji coba terhadap sistem persenjataan lain, seperti torpedo, meriam maupun rudal jenis lain, yang berguna dalam rangka menguji kesiapan kapal sebelum nantinya kapal tersebut digunakan sesuai proyeksi kekuatan dari Panglima TNI," ujar Maman.

Sumber: (Detik)

Paskhas TNI AU Butuh 119 Ranpur Pindad

Komodo 4x4 kendaraan taktis buatan Pindad (photo : Army Recognition)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Pasukan Khas TNI AU membutuhkan sebanyak 119 kendaraan tempur dan taktis buatan PT Pindad dalam menunjang operasional di lapangan. Ranpur tersebut akan memperkuat batalyon komando dan detasemen khusus yang dimiliki.

Hal tersebut dikatakan Komandan Korps Paskhas TNI AU, Marsekal Muda TNI Adrian Wattimena di sela-sela kunjungannya ke kawasan Pindad Bandung, Kamis (28/5).

“Produk Pindad siap mendukung kebutuhan ranpur kami. Pindad siap memenuhi semua kebutuhannya. Semoga terealisir, karena semua tergantung penganggaran,” katanya.

Secara keseluruhan, katanya, pihaknya membutuhkan kendaraan-kendaraan tempur bagi pemenuhan mobilitas prajurit yang tersebar di 9 batalyon komando dan 5 detasemen khusus.

Jenis kendaraan tempur yang dibutuhkan adalah Panser Anoa dan Rantis Komodo. Selain untuk angkut personil, varian Anoa yang diinginkan adalah yang mempunyai spesifikasi intai, recovery, ambulans, hingga logistik.

Dari kebutuhan 119 unit tersebut, semuanya terbagi rata untuk jenis Anoa maupun tactical vehicle seperti Komodo. Selama ini, Paskhas memenuhi kebutuhan tersebut dari luar negeri.

Dirut Pindad, Silmy Karim menegaskan pihaknya siap memenuhi kebutuhan tersebut. Selama ini, BUMN strategis itu terus melakukan pengembangan sehingga diharapkan produk yang dihasilkan bisa diandalkan termasuk masukan dari klien.

“Ini merupakan komitmen bersama untuk mendukung Pindad ke depan. Proses Litbang terus dilakukan. Kami pun melibatkan pengguna dalam proses itu karena pengguna adalah pihak yang paling mengetahui detail produknya,” jelasnya.

Sumber: (Suara Merdeka)

Bakamla Akan Bangun Tujuh Zona Maritim

Tujuh zona maritim yang akan dibangun, yakni di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Cilacap, Makassar, Balik Papan, Natuna, Sorong, dan Marauke. (image : Bakamla)

Jakarta (ANTARA News) - Badan Keamanan Laut (Bakamla) akan menambah pangkalan atau zona maritim yang tersebar di wilayah perairan Indonesia dengan membangun tujuh zona maritim guna mendukung sektor keamanan di laut.

Kepala Bakamla, Laksamana Madya Maritim Desi Albert Mamahit kepada wartawan di Kantor Bakamla, Jakarta, Rabu, mengatakan, saat ini Bakamla sudah memiliki tiga zona maritim yang berada di Manado, Batam, dan Ambon, namun pada awal tahun depan akan ditambahkan tujuh zona lagi.

"Tujuh zona maritim yang akan dibangun, yakni di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Cilacap, Makassar, Balik Papan, Natuna, Sorong, dan Marauke. Ini masih tentatif kita masih melakukan survei dan lokasi di sejumlah wilayah lagi. Kita masih pertimbangkan lagi untuk lebih pastinya. Di Sabang itu penting juga," katanya.

Namun, menurut dia untuk pengadaan pangkalan maritim pihaknya masih terkendala masalah aset dan infrastruktur. Hal itu hingga saat ini masih akan dipersiapkan dalam waktu dekat. 

"Setiap pangkalan akan dipimpin oleh eselon dua atau setara bintang satu," ucapnya.

Menurut dia, setiap pangkalan maritim akan terdapat stasiun radar jarak jauh dan satelit untuk menunjang operasi. Selain itu, akan juga dilengkapi peralatan surveillance dan informasi dari satelit, yang bisa memantau siapa saja yang memasuki perairan Indonesia.

Bakamla juga akan melakukan operasi Nusantara V dan Operasi Nusantara VI yang fokus di wilayah Tengah, Timur dan Barat.

"Operasi di wilayah barat, kita akan melakukan patroli di Natuna, wilayah tengah di Laut Sulawesi, dan di wilayah timur di Laut Arafura. Ini dilakukan untuk menjaga keamanan di laut dari aksi-aksi ilegal, seperti pencurian ikan, people smugling, penyelundupan baranf, penyelundupan bahan bakar dan lainnya," kata Albert Mamahit.

Tak hanya itu, Bakamla juga masuk dalam satuan tugas untuk membantu pengungsi Rohingya yang berada di Aceh.

Perkuat Alutsiskamla

Selain penambahan pangkalan maritim, lanjut Mamahit, Bakamla juga bakal menambah sejumlah alat utama sistem keamanan dan keselamatan laut (alutsiskamla) yang saat ini masih minim, yakni hanya memiliki kapal patroli berukuran 48 meter. 

"Pada akhir tahun ini, kami akan memesan tiga kapal patroli. Bakamla juga akan dapat hibah dari TNI AL sebanyak 10 kapal. Kita juga dijanjikan didukung dari Kepolisian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP). Mereka dukung kehadiran bakamla dengan memberikan dua unit kapal patroli. Harapan sampai lima tahun ke depan paling tidak Bakamla memiliki 30-40 kapal patroli," paparnya.

Selain itu, sejak dua bulan lalu Bakamla sedang membangun kapal berukuran 110 meter di Batam, yang berfungsi memantau wilayah laut hingga wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan laut lepas.

"Kita perlukan kapal besar, untuk mendukungoperasional kita bisa sampai ZEE dan laut bebas. Kapal itu bisa didarati helikopter. Sehingga jangkauan pantauan semakin luas. Tentunya juga akan menyiapkan pesawat tanpa awak dan pesawat intai amfibi yang bisa mendarat di laut yang sedang di buat oleh Institut Teknologi Bandung," tutur Mamahit yang baru dilantik sebagai Kepala Bakamla RI.

Selain penguatan alutsista, Bakamla juga akan memperkuat sumber daya manusia, dengan merekrut para ahli teknologi dibidangnya untuk menjaga wilayah perairan. 

Untuk peningkatan SDM bakamla juga membangun Akademi Keamanan dan Keselamatan Laut, yang sudah dimulai sejak tahun ini. "Pendaftaran mulai bulan Juli 2015. Kuliah bulan September 2015. Sementara gedung kita pinjam dari Akademi Angkatan Laut di Surabaya. Sambil secara bertahap bangun area pendidikan kita sendiri," ujarnya.

Sehingga diharapkan muncul SDM yang berkualitas untuk menjaga mengawal wilayah laut Nusantara, dimana saat ini Bakamla memiliki 500 personil.

"Dalam waktu lima tahun diharapkan bisa mencapai 2000 personil," tutupnya.

Sumber : (Antara)

Friday, May 22, 2015

Empat Pesawat F-16 C/D Tiba di Lanud Iswahjudi

Sudah 9 pesawat F-16C/D dari total 24 pesawat diterima TNI AU (photo : Lanud Iswahjudi)

Penlanud Iwj, Magetan - Setelah tertunda beberapa saat empat pesawat tempur F-16 C/D Blok 52ID TNI AU, tepat pukul 12.12 WIB mendarat di Lanud Iswahjudi, kedatangannya disambut Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Donny Ermawan T, M.D.S, dan Komandan Wing 3 Kolonel PNB Irwan Pramuda bersama pejabat lanud Iswahjudi, Jumat (22/5/15).

Empat pesawat tersebut diterbangkan langsung dari Amerika menuju Indonesia masing-masing TS 1631 diterbangkan oleh Mayor Thomas Arthur Juntunen, TS 1633 Mayor Brian Dauglas Perkins, TS 1636 Mayor Cabell David Francis, dan TS 1642 Letkol Chad William Jennings, dengan route penerbangan dari Hill AFB Eilsen Alaska Guam lanjut ke Lanud Iswahjudi dan parkir di Shelter Skadron Udara 3. 

Tibanya ke-empat pesawat tempur F-16 C/D Blok 52ID TNI AU tersebut, merupakan program pengadaan dari 24 pesawat dalam proyek "Peace Bima Sena II" kerjasama antara Pemerintah AS dan Indonesia, sehingga sudah 9 pesawat dengan tipe yang sama sudah berada di Indonesia.

Seluruh pesawat F-16 C/D Blok 52ID TNI AU dengan mesin pesawat tipe F100-PW-220/E menjalani upgrade sehingga menjadi baru kembali, selain itu refurbished rangka airframe serta sistem avionic dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center Hill AFB, Utah, rangka pesawat diperbarui, jaringan kabel dan elektronic baru dipasang semua sistem lama diperbarui sehingga kemampuannya jauh lebih hebat. 

Dalam proyek "Peace Bima Sena II" selain pengadaan 24 pesawat F-16, kontrak kerja sama juga meliputi pengadaan spare parts, ground support equoment, training, JMPS (Joint Mission Planning System), RIAIS (Rackmount Improve vionic Intermediate System), AME (Alternate Mission Equipment) dan PMEL (Precesion Measurement Equipment Laboratory). 

Selanjutnya pesawat F-16 C/D Blok 52ID TNI AU nantinya akan memperkuat Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi di Madiun dan Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin di Pekanbaru dan pesawat-pesawat canggih ini akan menambah kekuatan tempur TNI Angkatan Udara sebagai tulang punggung Air Power (kekuatan dirgantara) negara kita demi menjaga keamanan nasional Indonesia.

Sumber: (TNI AU).

KRI Kupang Akan Jadi Sasaran Penembakan Rudal Exocet MM-40 Blok II dari KRI Bung Tomo 357

Simulasi penembakan rudal dilakukan di Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata Surabaya (photo : TNI AL

Danguspurlatim Pimpin Simulasi Penembakan Rudal Exocet MM-40

Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Timur (Danguspurlatim) Laksamana Pertama TNI ING. Ariawan, S.E memimpin Latihan Pos dan Komando (Latposko) simulasi  penembakan senjata strategis TNI AL Rudal Exocet MM-40 Blok II di Tactical Team Trainer Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata (Puslatlekdalsen) Kobangdikal Bumimoro, Surabaya, Kamis (21/5).

Latihan simulasi ini melibatkan seluruh pelaku yang terlibat, baik prajuirt yang bertugas di kapal maupun staf pendukung lainnya. Latihan uji coba penembakan senjata strategis TNI AL ini, akan melibatkan 10 kapal perang jajaran Koarmatim. Sedangkan yang menembakkan rudal tersebut adalah KRI Bung Tomo-357, yaitu kapal perang terbaru yang dimiliki TNI AL yang saat ini masuk jajaran Satuan Kapal Eskorta Koarmatim, dengan Komandan Kapal Kolonel Laut (P) Yayan Sofian, ST

KRI Bung Tomo 357 fregat ringan TNI AL (photo : Express)

Penembakan Rudal Exocet MM-40 Blok II tersebut, akan dilakukan disekitar laut jawa dalam waktu dekat ini dengan sasaran eks KRI Kupang. Penembakan senjata stragis tersebut, akan disaksikan langsung oleh pejabat TNI diatas KRI Surabaya-591, yang dalam latihan ini sebagai kapal markas.

Dilaksanakannya  penembakan senjata strategis Rudal Exocet MM-40 Blok II ini, yaitu untuk mewujudkan hasil pembinaan serta meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan operasional serta mengukur kemampuan  Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL terbaru yang dimiliki TNI AL, yaitu Kapal Multi Role Light Frigate (MRLF) KRI Bung Tomo-357.

Penembakan senjata tersebut juga dalam rangka penyiapan KRI Bung Tomo-357 yang akan tergabung pada Satgas MTF XXVIII-H UNIFIL di Lebanon dalam waktu dekat ini. Penembakan Rudal Exocet MM-40 Blok II, selain untuk meningkatkan kemampuan tempur unsur-unsur TNI AL juga diharapkan mampu menimbulkan dampak penangkalan (Deterrence Effect) baik bagi Negara maupun non negara (State Actor and Non State Actor) yang akan mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sumber: (TNI AL)

Hawk 100/200 Skadron Udara 12 Latihan Terbang Malam

Hawk 100/200 di Skadron Udara 12 Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau (all photos : Lanud Roesmin Nurjadin)

Penerbang Skadron Udara 12 Latihan Terbang Malam

Ada yang terasa berbeda di langit Pekanbaru dari hari-hari sebelumnya, ini karena terdengar suara mesin jet yang menderu memecah kesunyian malam saat para penerbang dari pesawat tempur Hawk 100/200 Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin melaksanakan latihan terbang malam, Senin (18/5).



“Keahlian (skill) dan kemampuan terbang (profisiensi) dari para penerbang harus terus diasah dan ditingkatkan melalui berbagai latihan agar dapat mengatasi berbagai tantangan tugas yang mungkin dihadapi ke depannya, untuk itulah latihan ini dilaksanakan”, ujar Danskadron Udara 12 Lanud Rsn Letkol Pnb Jajang Setiawan.



Ditambahkan oleh Danskadron 12 bahwa tak hanya keahlian dan kemampuan para penerbang saja yang ditingkatkan, namun dengan latihan ini kesiapan seluruh alutsista serta ground crew pesawat pun akan dapat ditingkatkan, hal ini guna mengantisipasi kemungkinan akan terjadinya ancaman, gangguan serta pelanggaran wilayah udara Indonesia oleh pihak lain yang mungkin saja terjadi pada waktu siang maupun malam hari. 

Sementara itu Danlanud Roesmin Nurjadin Kolonel Pnb M. Khairil Lubis yang turut mengawasi latihan ini menyampaikan bahwa Lanud Roesmin Nurjadin sebagai pangkalan operasi harus selalu siap untuk melakukan misi yang diberikan kepadanya, dan itu melakukan operasi udara yang dapat terjadi kapan saja.



“Saya tekankan kepada seluruh personel untuk selalu mengedepankan faktor keamanan serta keselamatan terbang, agar latihan ini dapat terlaksana dengan aman, lancar dan tak kurang suatu apapun hingga usainya latihan nanti”, lanjut Danlanud.

Latihan terbang malam yang dilaksanakan secara periodik ini rencananya akan berlangsung hingga Kamis (21/5) dengan area latihan di sekitar wilayah Lanud Roesmin Nurjadin.

Sumber: (TNI AU)

Sunday, May 17, 2015

Indonesia Ingin Membeli 4 Helikopter Chinook

Helikopter angkut berat CH-47F Chinook (photo : Robin Polderman)

AS - RI Tingkatkan Kerjasama Pertahanan

JurnalJakarta.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Indonesia menginginkan peningkatan kerjasama di bidang pertahanan dikaitkan dengan ancaman nyata yang terus berkembang. Hal itu mencuat, saat Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu melakukan pertemuan dengan Menhan Amerika Serikat Ashton Carter di Pentagon, Washington, DC, Selasa (12/5).

Peningkatan kerja sama yang diinginkan AS tersebut terfokus dalam dua hal, yakni pertukaran informasi dan intelejen termasuk bidang cyber dalam hal penanganan terorisme maupun pejuang teroris asing (foreign terrorist fighters) serta Teknologi Pertahanan." ujar Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Berti Medmas melalui siaran persnya di Jakarta Minggu (17/5/2015)

Berti mengatakan, Menhan RI juga menyampaikan kebijakan pertahanan Indonesia saat ini, dimana ancaman nyata yang dihadapi meliputi terorisme, bencana alam, bencana akibat kelengahan manusia seperti longsor, kebakaran hutan dan pemanasan global, keamanan maritim khususnya perompakan, kemudian separatisme, pelanggaran perbatasan, kejahatan trans-nasional serta wabah penyakit seperti flu burung, SARS, MARS maupun ebola." ujarnya

Kedua belah pihak sepakat bahwa kerjasama antar negara menjadi tak terhindarkan dalam menghadapi ancaman-ancaman nyata tersebut. Oleh karena itu kerjasama pertahanan RI dan AS harus terus ditingkatkan guna menghadapi terjadinya eskalasi ancaman tersebut.

Percepatan Pengiriman F-16 dan Apache

Pada kesempatan pertemuan tersebut, Menhan RI menyampaikan keinginan Indonesia untuk menjadi perhatian khusus AS yaitu Pertama, percepatan pengiriman pesawat F-16 dan Helikopter Apache yang telah disepakati dalam kontrak pengadaan. Hal ini akan menjadi salah satu indikator untuk meningkatkan hubungan pengadaan alutsista dan kerjasama industri pertahanan kedua negara. Kedua, sudah saatnya Indonesia dan AS dapat melakukan latihan operasi khusus untuk menghadapi ancaman terorisme antara Kopassus Indonesia dan pasukan khusus AS. Menhan RI menyampaikan agar rencana latihan tersebut dapat dimasukan dalam agenda bilateral kerjasama kedua negara.

Usai melakukan pertemuan dengan Menhan AS, Menhan Ryamizard Ryacudu juga berkesempatan bertemu dengan Admiral Michele Howard, Kasal AS (Chief of US Naval Operations) untuk membahas kerjasama keamanan Maritim termasuk pertukaran pengalaman maupun pertukaran instruktur/pelatih.

Helikopter Chinook

Selain itu, Menhan RI juga berkesempatan mengunjungi Pabrik Boeing di Philadelphia yang memproduksi berbagai jenis Helikopter Tempur (Apache dan Chinook) dan menyampaikan keinginan Indonesia untuk membeli 4 buah Helikopter Chinook.

Sebelum melakukan kunjungan kerja ke Washington DC, rangkaian kunjungan kerja Menhan RI diawali pertemuan dengan United States Pacific Command (US PACOM) Commander, Admiral Samuel J. Locklear dan United States Army Pacific (US ARPAC) Commander, General Vincent K. Brooks, di Hawaii.

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat dilakukannya peningkatan kerja sama pertahanan dan militer, meliputi pelatihan maupun latihan bersama, pertukaran instruktur dan latihan untuk Kopassus serta Marinir.

Hal lainnya yang menjadi topik pembicaraan antara lain, pertukaran pandangan tentang perkembangan situasi keamanan di Laut China Selatan, yang berisi ajakan kepada semua pihak untuk menjaga stabilitas dan keamanan kawasan itu dengan menghormati code of conduct di Laut China Selatan. 

Selama di Hawaii, Menhan RI juga berkesempatan mengunjungi Squadron US Navy P-3C Orion sebagai satuan penerbang pengintai Keamanan Maritim Angkatan Laut AS. " ungkapnya. 

Sumber: (Jurnal Jakarta)

KRI Spica-934, Kapal Survei Hidrografi-Oseanografi Kedua Tiba September 2015

KRI Rigel 933 (photo : Ocea)

KRI Rigel-933, kapal survei hidrografi-oseanografi TNI AL tiba

Jakarta (ANTARA News) - Tanpa memerlukan kapal tunda, KRI Rigel-933, kapal survei hidrografi canggih TNI AL terbaru, bisa menambatkan diri di dermaga Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat. 

Kapal militer berkelir abu-abu laut itu tiba setelah 50 hari lalu berlayar dari galangan kapalnya, OCEA Dossier, di Les Sables-d’Olonne, Prancis, menuju Tanjung Priok. 

Kanon 20mm melengkapi KRI Rigel 933 (photo : Sea and Marine)

Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, memimpin upacara militer penyambutan kapal perang terbaru TNI AL, di dermaga itu, Jumat. 

“Indonesia memesan dua kapal survei di kelas ini kepada galangan kapal itu. Semuanya tepat waktu, baik pembuatan, pengujian, dan pengiriman,” kata Supandi, tentang kapal yang dikategorikan sebagai Multi Purpose Research Vehicle itu. 

Setelah upacara penerimaan ini, KRI Rigel-933 akan ditempatkan di Dinas Hidrografi-Oseanografi TNI AL, dengan nomenklatur penomoran 9xx yang menandakan dia dikategorikan secara aset ke dalam jajaran kapal bantu. 

Ruang anjungan (photo : Ocea)

KRI Spica 934

Kapal kedua yang dipesan dari galangan kapal OCEA Dossier, di Les Sables-d’Olonne, Prancis, itu akan tiba pada September nanti. 

Dia akan diberi nama KRI Spica-934, yang juga memakai nama rasi bintang, sebagaimana halnya dengan Rigel alias rasi Lintang Waluku (Jawa) atau Orion (Inggris/Barat).  

Laiknya kapal  survei hidrologi, KRI Rigel-933 seukuran panjang 60 meter dan bobot kosong 500 ton itu tidak dilengkapi senjata mematikan, hanya dua senapan mesin 12,7 milimeter yang ditancap di geladak samping kanan dan kirinya, plus senapan mesin 20 milimeter di bawah anjungan.

Yang menjadi keistimewaan kapal seharga 93,848 juta dolar Amerika Serikat ini adalah deretan instrumen khusus penera hidrologis dan oseanografis. 

Di antara banyak keistimewaan dan kecanggihan instrumennya, yang paling menyolok mata adalah kehadiran Autonomous Underwater Vehicle mirip torpedo gemuk berwarna oranye terang, di dalam kontainer khusus di geladak luar buritan kapal. 

Ruang pemrosesan data (photo : Sea and Marine)

Dialah yang menjadi andalan dalam memindai bentang alam laut mengandalkan sonar sisinya. Instrumen ini buatan Kongsberg, Norwegia. 

Dia bisa beroperasi secara mandiri (otonom) berbasis data komputer yang telah diinput dan data keluaran hasil kerjanya bisa dipancarkan seketika waktu. 

Masih didukung robot bawah laut buatan ECA Robotics, Prancis, yang awam biasa menamakan ini sebagai Remoted Operated Vehicle, dengan kamera-kamera tiga dimensinya. Olahan datanya bisa dilihat seketika di layar monitor dalam tampilan tiga dimensi. 

“Dia bisa membedakan lapisan demi lapisan air laut di kedalaman, hingga mengenali perbedaan salinitas dan pergerakan arus air. Juga bisa membedakan apakah obyek yang dijumpai itu metal, bahan organik, dan sebagainya,” kata Kepala Subdinas Penerangan Umum Dinas Penerangan TNI AL, Kolonel Pelaut Suradi, secara terpisah. 

Beberapa hadirin berkata, jika KRI Rigel-933 sudah tiba saat musibah AirAsia Qz8510 terjadi maka proses SAR korban dan evakuasi reruntuhan pesawat terbang itu bisa lebih cepat dan efisien.

Remotely Operated Vehicle (ROV), robot bawah air berfungsi sebagai survei geofisika, bisa menyelam hingga 1.000 meter, punya lengan dengan lima fungsi gerakan untuk ambil obyek di dasar laut. (photo : Viva)

KRI Rigel-933 yang baru tiba ini masih dalam pendampingan pembuatnya, galangan kapal OCEA Dossier.

“Kapal kami ini sangat istimewa, beberapa negara telah memesan. Bisa untuk kepentingan militer ataupun sipil sepenuhnya, tergantung keperluan," katanya.

"Yang penting juga, Angkatan Laut Prancis juga memakai kapal sama dengan yang dipesan Indonesia ini,” kata Manajer Proyek OCEA Dossier, Luc Boulestreau. 

Dia turut menyaksikan detik-detik kehadiran KRI Rigel-933 di Tanjungpriok itu. Senyumnya mengembang saat kapal berbodi alumunium itu bisa bermanuver baik dan ditambat. 

“Masih banyak sekali keandalan kapal ini yang harus dikuasai sepenuhnya dan kami siap mendukung sepenuh hati,” kata Boulestreau.

Sumber: (Antara)

Tahapan Menuju Roket Pengorbit Satelit, Lapan Berhasil Luncurkan RX-450



Roket RX-450 buatan Lapan meluncur (photo : Lapan)

Lapan berhasil meluncurkan roket RX-450. Peluncuran berlangsung di Balai Produksi dan Pengujian Roket Pameungpeuk, Jawa Barat, Rabu (13/5). RX 450 merupakan roket sonda yang mempunyai diameter 450 mm yang dapat digunakan untuk mengukur parameter atmosfer. 

Roket ini direncanakan mampu mencapai ketinggian dan jangkauan maksimum berturut-turut sebesar 44 km dan 129 km jika ditembakkan pada sudut elevasi 70 derajat. Roket RX 450 merupakan bagian dari roket bertingkat yang akan digunakan sebagai Roket Pengorbit Satelit (RPS). Uji terbang roket ini merupakan bagian dari tahapan dalam penguasaan roket RPS yang direncanakan dapat membawa muatan 50 kg ke orbit rendah.

Pada uji terbang roket RX 450 tersebut motor roket dapat berfungsi dengan baik untuk membawa terbang roket. Beberapa hal masih harus terus dilakukan untuk memperoleh hasil terbang yang maksimal.

Setelah peluncuran RX-450, Lapan berencana untuk menuju peluncuran berikutnya yaitu RX-550 dan roket berdiameter yang lebih besar. Hasil peluncuran tersebut menjadikan motivasi bagi Lapan untuk lebih maju dalam peningkatan dan pengembangan teknologi antariksa khususnya roket.

Peluncuran disaksikan oleh Kepala Lapan Prof. Thomas Djamaluddin, Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Dr. Rika Andiarti beserta pejabat struktural dan para peneliti Lapan, perwakilan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, serta PT Pindad.

Sumber: (Lapan)

Thursday, May 14, 2015

Mengintip Dalaman Pesawat Intai Maritim


CN-235 220 Patmar TNI AL (photos : Teerawut, CentoOne)

Centroone.com - Wakil Komandan Pesawat Udara 1 Flight 2 Juanda Letnan Satu Laut [P] Indra Permana mengintai kapal laut dengan monitor Ocean Master Radar dan FLIR (forward looking infra red) SAFIRE III di pesawat CN-235 220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) TNI AL, di Tanjung Pinang, beberapa waktu lalu.




Pesawat intai maritim dibawah kendali Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat ini dilengkapi Radar Ocean Master (OM) 400 dengan daya jangkau kurang lebih 200 NM dan dilengkapi FLIR (forward looking infra red) SAFIRE III atau kamera intai laut dengan sudut 360 derajat serta jarak jangkau sekitar 80-90 NM untuk patroli laut wilayah perbatasan. 

Sumber : (CentroOne)

Sunday, May 10, 2015

Analisis : Mencermati Sinyal Adrenalin "TSel"

Jawaban cemerlang juru bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir belum lama ini sungguh sangat membungakan hati kita: Pembangunan Indonesia tidak dipengaruhi bantuan Australia. Indonesia tidak dalam kapasitas meminta-minta bantuan Australia dan adalah hak Australia untuk tidak memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada Indonesia.  Ini adalah jawaban yang mampu memukul wajah negeri itu yang senangnya mengancam Indonesia dengan berbagai jurus sehubungan dengan ditembak matinya 2 gembong narkoba Bali Nine baru-baru ini.

Sinyal adrenalin TSel (Tetangga Selatan) belakangan ini menuju tensi tinggi karena tidak legowo dengan matinya 2 warga negaranya yang tersangkut pidana narkoba.  Mulai dari ancaman akan membekukan bantuan luar negerinya kepada Indonesia sebesar 4 trilyun, mengajak boikot warganya ke Bali, memberi beasiswa dengan nama “pahlawan” Bali Nine, menghalangi dan membatalkan perjalanan Sby ke Perth sampai dilarangnya mahasiswa kita ikut kuliah di sebuah universitas disana.
Halim AFB, salah satu basis kuat TNI AU
Sesungguhnya Australia memerlukan Indonesia dalam segala hal.  Artinya kita sesungguhnya begitu penting di mata mereka.  Negeri berpenduduk 250 juta ini adalah pasar ekonomi yang bisa mempengaruhi kehebatan negeri itu. Ada puluhan ribu mahasiwa Indonesia di Australia yang tentu ikut menggeliatkan ekonomi negeri itu. Peternak sapi Australia memerlukan pasar besar yang bernama Indonesia. Indonesia sesungguhnya juga merupakan bumper bagi Australia terutama menghadapi ancaman militer raksasa Cina yang mulai menyemburkan api lidah naga di kawasan sekitarnya.

Arogansi cara bertetangga negeri warisan aborigin itu tidak telepas dari persepsi dan perspektif pengendali pemerintahannya yang merasa selalu diatas angin dan kesan mendikte jika berselisih paham dengan RI.  Maunya dia ya kemauan dia yang diikuti sebab kalau tidak maka menu omongan bernama dan bernada ancaman dia teriakkan dengan sok jagoan misalnya tarik duta besar, boikot pariwisata, ungkit-ungkit bantuan tsunami dan seterusnya.  Kita berkesimpulan bahwa pengendali pemerintahan disana memang tidak menunjukkan cara pandang yang bijaksana dan dewasa dalam hubungan pertetanggaan khususnya dengan Indonesia. Yang dikedepankan hanya arogansi dan merasa kastanya lebih tinggi.

Terkait dengan hubungan kerjasama pertahanan dan militer dengan kita, ada beberapa  kerjasama yang sedang on going project, misalnya hibah berbayar 5 Hercules dan pembelian 4 Hercules bekas.  Kemudian kerjasama pelatihan militer antar kedua negara. Lebih penting dari itu adalah Australia harus memelihara hubungan ekonomi, militer dan kepolisiannya dengan kita karena kebutuhan masa depannya.  Apalagi saat ini Indonesia sedang melaksanakan modernisasi militernya di segala matra.

Uji tembak peluru kendali Exocet Blok 3
Perkuatan militer Indonesia pada saatnya nanti akan memberikan kekuatan pertahanan diri yang setara dengan negeri itu.  Artinya tidak bisa lagi Australia meremehkan kekuatan militer kita. Indonesia saat ini sedang membangun kekuatan militernya dengan anggaran belanja yang meningkat tajam.  Bahkan diperkirakan tahun 2017 nanti anggaran pertahanan Indonesia sesuai prediksi Andi Widjajanto akan menjadi nomor satu di ASEAN.  Dan itu akan berlanjut terus sehingga fajar kekuatan militer yang kekar gagah itu akan terlihat di tahun 2024 kelak, sepuluh tahun dari sekarang.

Saat ini saja sesungguhnya gertak sambal negeri kanguru itu tidak bergaung di negeri ini.  Mau boikot pariwisata kek, mau tarik dubes kek, mau putus bantuan kek, sudah gak ngaruh tuh.  Toh semuanya berjalan seperti biasa dan gertakan Abbott dianggap angin lalu.  Apalagi jawaban diplomat Indonesia Arrmanatha Nasir yang sangat jantan itu membuat negeri itu harus berhitung ulang.  Sebab dia juga harus berpikir ulang jika Indonesia melakukan serangan balik dengan menghentikan impor sapi atau menghentikan kerjasama kepolisian untuk tanggulangi teroris, dia akan kelimpungan sendiri.  Harap dicatat, kita bukan lagi pengikut tetapi sudah menjadi faktor penentu.

Indonesia akan terus berjalan dengan membangun kekuatan ekonomi dan militernya.  Yang tidak akan tertandingi Australia adalah kekuatan ekonomi Indonesia yang sudah jauh mengungguli tetangga selatan itu.  Demikian juga perkuatan militer Indonesia dengan membangun kekuatan 1 divisi marinir di timur Indonesia, membangun armada tempur kawasan timur berpusat di Sorong, menambah kekuatan skuadron tempur di Biak, memperkuat radar-radar militer tentu pada saatnya akan mampu menyadarkan dia bahwa tetangga dekat utaranya itu bukanlah anjing kampung yang mudah digertak.


Kekuatan ekonomi dan militer Indonesia sedang menuju kekuatan herder dan jika itu tercapai sepuluh tahun dari sekarang sebagaimana prediksi lembaga-lembaga internasional maka gertak sambal yang selalu dikumandangkan selama ini akan dibalas dengan gemeretak geraham sambil menyeringai.  Dijamin kanguru sebelah terdiam dan terkesima.  Yang perlu dipahami Australia adalah meski nanti kekuatan ekonomi dan militer kita sudah setara herder tetapi yakinlah kita tetap mengedepankan kultur timur yang selalu santun dan teposeliro dengan tetangga tetapi tentu dengan menambah rambu “anda sopan kami segan, anda senggol kami bacok”.


Sumber : Jagarin

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Coupons