Total Pageviews

Thursday, April 30, 2015

Pesawat Tanpa Awak Bakal Beroperasi Di Lanud Supadio

Skadron 51 merupakan skadron UAV jenis Aerostar yang berpangkalan di Lanud Supadio (photos : Kaskus Militer)

Kubu Raya, InfoPublik  - Danlanud Supadio Pontianak, Kolonel Pnb Palito Sitorus, mengatakan, terkait pengembangan lanud menjadi type A yang merupakan rencana strategis yang telah dicanangkan pimpinan TNI Angkatan Udara dan pada saat ini mereka telah mempersiapkan personil, logistik beserta alutsistanya menuju pangkalan udara type A.



"Kami dari internal lanud supadio saat ini sudah mempersiapkan pimpinan TNI AU untuk segera meresmikan dengan segera. Namun untuk kapan waktunya kita masih menunggu kabar selanjutnya," ujarnya.

Ia mengatakan saat ini lanud Supadio Pontianak memiliki satu skadron udara hawk 100/200 dan sekarang dimulai penambahan skadron 51 yang kita ketahui merupakan skadron udara pesawat tanpa awak.



"Untuk personil pesawat tanpa awak saat ini sedang menjalani pelatihan dan mudah-mudahan dalam waktu dekat kita akan segera meresmikan udara skadron udara pesawat tanpa awak dan itulah satu di antara lanud supadio akan dijadikan lanud type A," paparnya.

Ia menjelaskan pesawat tanpa awak yang direncanakan akan beroperasi di Lanud Supadio saat ini sedang dalam penggodokan untuk jumlahnya dirinya belum mengetahui secara detail yang pasti akan ada satu skadron pesawat tanpa awak di lanud.

Sumber : (InfoPublik)

Wednesday, April 29, 2015

PT DKB Ditargetkan Bangun Kapal Selam

Galangan kapal PT DKB (image : xsia-sistem)

JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah berencana menggandeng pihak swasta untuk mengembangkan badan usaha milik negara PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero). Targetnya, perusahaan negara itu dalam beberapa tahun ke depan, bisa membangun kapal selam.

Presiden Joko Widodo menyampaikan rencana itu saat mengunjungi PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (PT DKB) di Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (28/4). "Seharusnya (PT DKB) sudah bisa membuat kapal selam kalau ada kesinambungan. Korea (Selatan) yang membuat perusahaan (perkapalan) pada 1973 sudah bisa membuat kapal selam. Mestinya, ini juga bisa," kata Presiden.


Dalam kunjungan itu, Presiden antara lain didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, dan Menteri Tenaga kerja Hanif Dhakiri. Pada kesempatan itu, presiden membagikan Kartu Indonesia Sehat kepada karyawan PT. DKB.

PT DKB merupakan hasil merger empat industri galangan kapal, yaitu PT Dok dan Perkapalan Tanjung Priok yang berdiri 1891, PT. Kodja, PT. Pelita Bahari, dan PT Dok dan Galangan Kapal Nusantara. Ketiga perusahaan terakhir itu berdiri 1964.

Presiden telah memerintahkan Menteri BUMN Rini Soemarno menjajaki peluang kerja sama PT DKB dengan pihak lain yang lebih berpengalaman membangun kapal selam. Selain untuk mengembangkan PT DKB, Presiden juga ingin ada percepatan alih teknologi.


Menteri BUMN mangatakan bahwa ada kemungkinan relokasi pabri, pasalnya lahan PT DKB saat ini belum memadai untuk produksi kapal dalam jumlah besar (photo : detik)

"Tidak tahu dengan perusahaan mana, tetapi untuk mempercepat, ya, dengan cara itu. Di sini, dari sisi sumber daya manusia siap, untuk mengelas juga siap. Namun untuk desain mesin (perlu alih teknologi)," kata Joko Widodo. Pengembangan PT DKB perlu dilakukan dengan memberikan pesanan secara berkesinambungan dalam 10 tahun.

"Tidak apa-apa (terlambat), ini kita kejar. Saya tititp ke Menteri BUMN agar order diberikan selama 10 tahun sehingga tidak ada kekhawatiran mencari order ke sana kemari," kata Presiden. PT DKB harus fokus dalam membangun kapal dan tidak melayani pembangunan rig atau anjungan minyak lepas pantai.

Menurut Rini, pemerintah ingin mengembangkan PT DKB membangun kapal dan memasok kebutuhan kapal dalam negeri. karena lahan sempit, pemerintah mengupayakan lahan lebih luas untuk pengembangan PT. DKB. "Kita mau membagi dua untuk PT DKB ini, repair dan maintenance di satu area. Lalu kita juga harus punya lahan besar untuk pembangunan kapal. 

Untuk pembangunan ada dua tipe, yang satu harus meningkatkan kemampuan dengan melakukan sendiri. Yang satu lagi, kita kerja samakan sehingga partner kita bisa transfer teknologi," kata Rini. Ia belum bisa pastikan dari mana partner yang akan digandeng.

Sumber : (Kompas)

PT Lundin Perkenalkan X18 Tank Boat

X-18 tank boat rancangan PT Lundin (photo : Detik)

Keren, Pabrik Kapal Asal Banyuwangi Bikin 'Tank Laut' Pertama di Dunia

Jakarta -PT Lundin Industry Invest, pabrik kapal militer yang bermarkas di Banyuwangi Jawa Timur, sedang mengembangkan konsep kapal militer terbaru. Setelah menciptakan kapal perang siluman yakni Kapal Cepat Rudal Trimaran atau KRI Klewang, Lundin kembali menggagas ide membangun kombinasi boat atau kapal dengan tank berat atau heavy tank.

Kapal in diberi nama tank boat atau mirip dengan konsep tank laut. Kombinasi ini diklaim pertama kali dibuat dan belum ada di pasar senjata dunia.

"Kita melihat ini dapat dipakai untuk operasi di laut dan sungai. Heavy tank memiliki kendala untuk operasi di pendalaman dan juga daerah kepulauan. Maka kita kembangkan kombinasi boat dan tank guna mendukung pendaratan amfibi namun dilengkapi senjata berat," kata Presiden Direktur PT Lundin, John Lundin, di sela acara Armored Vehicle Asia (AVA) Conference 2015, Hotel Crowne, Jakarta, Selasa (28/4/2015).

Untuk bahan baku, kapal bernama X18 Tank Boat akan memakai material komposit. Material ini dinilai lebih kuat 10 kali dari baja namun juga 10 kali lebih ringan dari baja. John menjamin komposit material untuk Tank Boat tahan api. Ia memastikan tidak akan terulang kembali musibah serupa yang menimpa KRI Klewang karena memakai bahan serupa.

"Persoalan sudah diselesaikan. Material komposit memang memiliki masalah soal daya tahan terhadap api. Ini masalah di dunia. Sekarang teknlogi material komposit sudah dipakai di kereta dan pesawat. Teknologi terbaru dari material komposit 100% tahan api," jelasnya.

John bercerita, kombinasi tank berat dan boat ini pernah dibuat oleh Rusia saat perang dunia ke-2 serta saat perang Vietnam oleh Amerika Serikat. Meski dikembangkan, produk boat tank belum berhasil untuk diproduksi karena kendala teknologi. Kini, material komposit membantu menyelesaikan persoalan beban.

"Saat ini, turret dari bahan alumunium. Mau tembak dari laut, butuh kestabilan tinggi. Namun dahulu nggak bisa. Ini produk ringan karena pakai komposit. Yang mungkin 5-15 tahun lalu susah dibuat," jelasnya.

PT Lundin berancana menggandeng PT Pindad (Persero) untuk mengembangkan tank laut ini. Sementara untuk pembuatan turet dengan kaliber 105 MM, Lundi menggandeng CMI Defence, sedangkan Bofors asal Swedia digandeng untuk pengembangan sistem senjata. John mengaku TNI merespon positif konsep tank laut ini.

"Mereka sangat berkesan. Cuma 5-10 tahun lalu produk ini belum ada jadi belum masuk rencana mereka jadi kita kerja keras untuk kembangkan," jelasnya.

Saat beroperasi, X18 Tank Boat mampu membawa 4kru dan 20 personil. Di atas air, kapal buatan Banyuwangi ini mampu melaju dengan kecepatan maksimal 40 knots. Kapal ini memiliki panjang 18 meter dengan lebar 6,6 meter.

Sumber : (Detik)

Tuesday, April 28, 2015

Model Tank Medium Pindad Dipamerkan di AVA Conference 2015

Tank medium Pindad akan menggunakan kubah meriam 105mm CV-CT buatan CMI Belgia (photo : Defense Studies)

Ini Penampakan Desain 'Tank Leopard' Buatan PT Pindad

Jakarta -Industri pertahanan Indonesia saat ini belum mampu memproduksi kendaraan tempur lapis baja (armored vehicle) untuk kelas tank. Alhasil, TNI masih sangat tergantung terhadap pasokan tank impor. Hal ini sangat rawan bila sewaktu-waktu terkena 'embargo' dari negara produsen senjata.

Melihat fenomena ini, Kementerian Pertahanan RI menugaskan PT Pindad (Persero) mengembangkan dan membangun tank kelas medium atau medium tank secara mandiri sejak 2012. Tank rancangan Pindad kini memasuki tahap desain tank.

Dari model yang ditampilkan pada acara Armored Vehicle Asia (AVA) Conference 2015, canon atau turret dari medium tank karya Pindad tampak menyerupai Tank Leopard yang telah dibeli oleh TNI AD. Tank tersebut dikonsep memakai senjata canon kaliber 105 mili meter (mm).

"Ini medium tank. Dasarnya, TNI pada pasukan kaveleri butuh tank pendamping untuk Main Battle Tank dari Leopard. Pendampingnya harus kelas medium karena saat operasi, MBT butuh pendamping. Kebetulan TNI belum punya medium tank yang pakai canon kaliber 105mm. Sedangkan leopard kalibernya 120 mm," kata VP Product and Process Development Pindad Heru Puryanto kepada detikFinance pada sela acara Armored Vehicle Asia (AVA) Conference 2015 di Hotel Crowne, Jakarta, Selasa (28/4/2015).

Untuk pengembangan medium tank, Pindad mengandeng produsen tank asal Turki, FNSS. Kedua belah pihak akan memadukan rancangan tank masing-masing untuk diproduksi bersama.

"Di pihak Indonesia ditunjuk Pindad. Turki ditunjuk FNSS. Sekarang masuk pembahasan finalisasi. Konsep dari Pindad bisa dipakai dan bisa berubah," jelasnya.

Di pasar medium tank, produk rancangan Pindad memiliki pesaing dengan Tank K21 buatan Korea Selatan, Tulpar buatan Turki, dan BMP3F buatan Rusia. Pindad menargetkan produk medium tank made in Bandung bisa selesai mulai 2017.

"3 tahun ke depan selesai purwarupa. Tahapannya, tahun pertama (2015) finalisasi desain, tahun kedua produksi, tahun ketiga dilakukan test," ujarnya.

Untuk pengembangan sistem senjata, Pindad membuka peluang BUMN RI seperti PT Inti dan PT LEN sedangkan PT Krakatau Steel Tbk diharapkan mampu memasok baja untuk medium tank dengan ketebalan baja 16 mm. Meski demikian, Pindad tetap akan mengadeng produsen senjata dunia untuk memasok turret karena industri pertahanan lokal belum mampu memproduksi.

Heru mengaku banyak manfaat yang diperoleh Indonesia dengan mengembangkan tank secara mandiri di dalam negeri.

"Intinya kembangkan di dalam bisa mengurangi ketergantungan dari luar. Saat jalan sendiri, kita bisa mandiri karena setiap bisa embargo," tuturnya.

Sumber : (Detik)

DPR Janji Naikkan Anggaran Alutsista TNI Hingga Rp 200 T

Dengan anggaran pertahanan Rp 200 T artinya naik dua kali lipat dari anggaran yang ada sekarang (photo : fallenpx)

Merdeka.com - Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR) telah mencanangkan target untuk meningkatkan anggaran pengadaan Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) TNI sebesar Rp 200 triliun. Janji tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Komisi I DPR Ahmad Hanafi Rais.

"Ini komitmen kami dan sudah direncanakan dalam rapat dengan anggota DPR-RI, maksudnya tidak lain untuk mendukung TNI menjadi lebih baik, profesional dan kuat, terutama dari segi kelengkapan peralatan alutsistanya," kata Ahmad Hanafi Rais di Mataram, Senin (28/4), seperti dilansir Antara.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Hanafi dalam pertemuan yang digelar di Markas Komando Resor Militer (Makorem) 162/Wira Bhakti, turut hadir Pangdam IX Udayana, Mayor Jenderal TNI Torri Djohar Banguntoro.

Menurut putra Amien Rais ini, dukungan pengadaan alutsista di tubuh TNI sangat dibutuhkan dan penting bagi menjaga pertahanan dan keamanan teritorial Negara Indonesia. Dana ini akan dimasukkan dalam APBN dan diberikan secara bertahap selama lima tahun mendatang.

Saat ini, pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk pengadaan alutsista senilai Rp 102 Triliun, angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 83 Triliun.

Mendengar janji itu, Pangdam IX Udayana, Mayor Jenderal TNI Torry Djohar Banguntoro terkait hal tersebut menyampaikan bentuk apresiasinya kepada pemerintah. Namun, hal tersebut tidak terlepas untuk menjaga kewibawaan Bangsa dan Negara Indonesia di tingkat nasional maupun di dunia internasional.

"Sebenarnya ini tidak lain untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI maupun upaya dalam mempertahankan kedaulatan negara," ucapnya.

Sumber : (Merdeka)

Monday, April 27, 2015

Dua Prototipe Tank Medium Pindad Dibuat Tahun Ini

Rancangan Tank Medium Pindad (image : istimewa)

Kunjungan Kerja Komisi I DPRI RI ke PT Pindad (Persero)

Para wakil rakyat yang tergabung dalam Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melakukan kunjungan kerja ke PT Pindad (Persero).  Rombongan yang dipimpin oleh Ketua Komisi I DPR Ri Mayor Jenderal (Purn) Supiadin Aries Saputra ini diterima oleh Direktur Utama PT Pindad (Persero) Silmy Karim di Auditorium Gedung Direktorat PT Pindad (Persero), Bandung. Acara ini dihadiri pula oleh jajaran Direksi dan pimpinan PT Pindad (Persero).

Adapun kunjungan kerja ini dilakukan untuk meminta data dan informasi dari PT Pindad (Persero) mengenai perkembangan kerjasama proyek medium tank dengan Turki. “Kunjungan ini dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai perkembangan kerjasama pertahanan antara Pindad dengan Turki, termasuk bagaimana respon dari Kementerian Pertahanan dan TNI dalam mendukung implementasi kerjasama tersebut,” ujar Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra mewakili para anggotanya.

Silmy Karim, menanggapi hal tersebut, mengatakan bahwa proyek bersama Indonesia – Turki mengenai medium tank sudah diinisiasi sejak lama, namun analisis kemampuan Pindad terus dilakukan. “Kerjasama ini sebenarnya sudah dinisiasi sejak lama oleh Pemerintah, bahkan penandatanganannya sudah terjadi sejak tahun 2013. Secara manufaktur dan testing Pindad sudah siap. Namun ada beberapa teknologi yang masih memerlukan bantuan dari para mitra seperti turret dan firing control system, navigation system, serta self defence system. Kami ingin membuat medium tank yang sempurna baik dari mobility,fire power, dan survivability” ujar Silmy.

Jadwal pengerjaan proyek sudah dibuat. Jika semuanya berjalan lancar, pada tahun 2015 ini akan dibuat satu unit purwarupa produk di Indonesia dan satu unit di Turki. Komunikasi yang lebih intens juga sedang dilakukan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia dengan Savunma Sanayii MüsteÅŸarlığı (SSM), Kementerian Pertahanan Turki. “Untuk progress B2B, sudah dikirimkan beberapa karyawan Pindad untuk mempelajari lebih jauh teknik pengelasan aluminium armored yang dipakai sebagai bahan baku medium tank,” ujar Silmy. Ia juga menyatakan rasa optimisnya bahwa proyek ini akan berjalan dengan baik di masa depan. “Kami optimis program medium tank ini akan berjalan dengan baik karena latar belakang teknologi industri pertahanan Indonesia dan Turki yang sudah cukup baik,” tutup Silmy.

Setelah diskusi panjang di auditorium selesai, rombongan Komisi I DPR RI mengunjungi beberapa fasilitas produksi PT Pindad (Persero) di Divisi Kendaraan Khusus dan Divisi Senjata untuk mencoba performa produk pertahanan dan keamanan Pindad secara langsung. 

Sumber : (Pindad)

Saturday, April 25, 2015

Analisis : Ketika Xi Jinping Menempel Ketat Jokowi

Enam bulan pemerintahan Jokowi berjalan, sudah tiga kali bertemu wajah dengan Presiden Cina Xi Jinping.  Tentu ini sebuah silaturrahmi yang luar biasa, terjadwal, sekaligus bermakna besar dalam rencana-rencana bisnis strategis kedua negara.  Pertemuan ketiga kedua kepala negara adalah di ajang KAA 22-24 April 2015.  Dan bisa kita saksikan betapa dekatnya mereka, dan saling menempel meski tetap saja ada kekakuan dari seorang Xi Jinping, ciri khas aura yang memang melekat dari kebanyakan pimpinan tertinggi negeri tirai bambu, Cina.

Kedekatan itu tentu saja menimbulkan kecemburuan pada rival Asia Timurnya Jepang yang juga punya banyak rencana bisnis dan investasi di Indonesia termasuk persaingannya dengan Cina memperebutkan proyek kereta api cepat di Indonesia. Toh pada akhirnya proyek “Shinkansen” itu jatuhnya ke tangan Cina bersamaan dengan penandatanganan MOU di sela-sela KAA. Begitu kekinya Jepang dengan menempelnya Xi Jinping bersama Jokowi dan adanya MOU itu, sampai-sampai konon PM Shinzo Abe tidak jadi ikut Historical Walk di Bandung Jumat tanggal 24 April 2015, langsung pulang tuh.
Saling melontar senyum di KAA, Xi Jinping, Jokowi, Shinzo Abe
Kedekatan hubungan diantara petinggi itu itu mestinya bisa menggairahkan Indonesia untuk memoderasi konflik Laut Cina Selatan (LCS) yang semakin hari semakin menjurus pada provokasi dan adu kekuatan. Indonesia harus bisa memainkan perannya untuk mengajak para pihak utamanya Cina ke meja perundingan sekaligus untuk menunjukkan semangat Asia Afrika yang “tulus” itu. Kedekatan dengan Xi Jinping mestinya bisa dimanfaatkan Jokowi untuk omong-omong informal soal LCS.  Bukankah kebanyakan penyelesaian konflik selalu diawali dengan omong-omong informal, contohnya perdamaian di Kamboja.

Jokowi, kalau saja dia punya ide dan inisiatif untuk bergegas menggagas upaya dialog antar para pihak pengklaim LCS, tentu jalur “diplomasi infrastruktur” kedua negara akan memantik pola hubungan yang jauh lebih apik. Tidak melulu bisnis dan investasi sebagaimana rencana membangun infrastruktur bernilai US $50 milyar yang dijanjikan Cina. Bisa saja kekakuan dan kebekuan pola diplomatik Cina dapat dicairkan dengan dialog-dialog pribadi sebagaimana yang ditunjukkan Jokowi dan Xi Jinping di KAA barusan.

Tetapi jangan lupa Cina tetaplah selalu berhitung ketat dalam soal kerjasama apapun. Kerjasama militer dengan RI untuk memproduksi bersama  peluru kendali anti kapal C-705 nyaris tak terdengar suaranya.  Padahal ini sudah digadang-gadang sejak pemerintahan sebelumnya. Kita tidak tahu apakah proyek strategis ini jalan di tempat atau berjalan diam-diam atau memang sengaja didiamkan. Bisa saja terlalu banyak persyaratan teknis dan non teknis yang diinginkan Cina, ya karena perhitungan “dimpilnya” itu.  Sama dengan Pakistan, janji Cina membangun infrastruktur disana bernilai US $40 milyar sepuluh tahun lalu, realisasinya tak semanis janji.
Menempel terus, Jokowi dan Xi Jinping di KAA
Yang menarik dengan Cina adalah, hubungan bisnis dan investasi termasuk rencana pembangunan infrastruktur bernilai 650 trilyun di Indonesia tidak diimbangi dengan kedekatan hubungan militer utamanya rencana strategis pengadaan alutsista.  Indonesia lebih percaya diri jika kedekatan itu ada bersama dengan Paman Sam. Ini bisa dibuktikan dengan pengadaan 24 jet tempur F16 refurbish, pembelian 8 helikopter Apache, pembelian peluru kendali udara ke udara, udara ke darat, konsultasi manajemen pertempuran modern, pelatihan cyber war, latihan bersama antar angkatan dan lain-lain. Bandingkan dengan Cina, kerjasama teknologi peluru kendali C-705 belum menampakkan jalan cerita yang terang.

Boleh jadi jalan yang diambil Indonesia adalah bergaul dengan semua pihak untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan militer sambil bersiasat jika sewaktu-waktu timbul konflik tak terduga. Mendekat ke Cina untuk ikut membangunkan infrastruktur sambil tetap berdagang berbagai komoditi.  Tetapi juga mempersiapkan kondisi terburuk jika konflik LCS meletus dengan membangun aliansi pertahanan melawan Cina. Atau bisa jadi kedekatan hubungan dengan Cina menjadi penuntun bagi kita sebagai fasilitator dan mediator konflik LCS.

Yang jelas pembangunan kekuatan militer Indonesia bukan lagi sebuah kemakruhan. Tetapi sudah menjadi wajib hukumnya kalau tidak ingin menyesal di kemudian hari.  Situasi kawasan tidak bisa diprediksi, angin cepat berubah dan yang bisa memastikan keyakinan untuk percaya diri dengan semua gangguan cuaca ekstrim tadi adalah kemampuan pertahanan diri. 

Hanya saja sepanjang 6 bulan ini belum terlihat rencana rinci mau beli alutsista apa, darimana, untuk matra apa. Semua masih belum jelas selain rencana kedatangan alutsista dari program pemerintah sebelumnya.  Kita jadi rindu dengan gaya Purnomo Yusgiantoro yang selalu menggebu-gebu melontarkan pernyataan, setidaknya dia mampu membangunkan spirit berpertahanan bagi anak bangsa.

Tiga kali pertemuan akrab dengan orang nomor satu Cina Xi Jinping tentu akan memberikan kedekatan personal dengan Presiden Indonesia. Kita tidak tahu apakah ada disinggung masalah konflik kawasan dengan Cina. Kedekatan personal jika diimbangi dengan kemampuan diplomasi sebagaimana yang dilakukan oleh Bung Karno dalam menggagas KAA tentu akan semakin mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. 


Menlu Ali Alatas adalah diplomat cemerlang dengan segudang prestasi. Salah satunya adalah menggagas pertemuan informal yang dikenal dengan JIM (Jakarta Informal Meeting) untuk mendamaikan pertarungan antar elite di Kamboja. Hasilnya kita bisa saksikan Kamboja yang sekarang, damai dan berkawan baik dengan Vietnam.  Begitu berterimakasihnya Kamboja pada kita akhirnya berdampak pada kerjasama militer yang menguntungkan kita karena militer Kamboja “berguru dan berkiblat” pada Kopassus.  Sebuah kebanggaan tersendiri.  Kalau saja kita bisa mendamaikan konflik LCS, betapa terhormatnya negeri ini.


Sumber : Jagarin

TNI AU Latihan Operasi Garuda di Jember

Jalannya latihan Operasi Garuda di bandara Notohadinegoro, Jember (photo : Kabarjatim, antarajatim)

Jember (Antara Jatim) - Pasukan TNI AU Pangkalan Udara Abdurrahman Saleh Malang menggelar latihan "Operasi Garuda Perkasa" di Bandara Notohadinegoro Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis.

Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Abdurrahman Saleh Marsekal Pertama TNI Sungkono mengatakan latihan tersebut dilakukan untuk mempersiapkan pasukan atas tugas yang diberikan negara kepada para prajurit.

"Kita gunakan Bandara Notohadinegoro di Jember agar anggota bisa melakukan skenario gerakan sayap kanan bersenjata yang bergerak di Jawa Timur bagian selatan dan gangguan dapat diantisipasi," tuturnya di Jember.

Latihan yang digelar di bandara Jember tersebut dipilih pasukan Lanud Abdurrahman Saleh karena merupakan salah satu objek vital yang perlu diantisipasi, apabila ada masalah di bandara yang berada di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung itu.

"Latihan yang diberi nama Latihan Operasi Garuda Perkasa itu melibatkan seluruh anggota Lanud Abdurrahman Saleh yang terdiri dari Batalyon Komando 464 Paskhas dan Detasemen Matra, dengan total anggota sekitar 1.300 personel," paparnya.



Latihan tersebut dilengkapi dengan satu unit pesawat intai C-212-Casa, 2 unit pesawat angkut berat C-130 Hercules dan 4 unit pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano.

Latihan yang baru pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Jember itu melakukan simulasi operasi perebutan dan pengendalian Bandar Udara Notohadinegoro Jember. 

Operasi diawali dengan penerjunan pasukan Pengendali Tempur (Dalpur) yang akan menyiapkan "dropping zone", kemudian disusul manuver-manuver tempur dari pesawat Super Tucano yang melakukan simulasi serangan udara.

Diakhiri dengan penerjunan puluhan pasukan dari Skadron Udara 32 dan penerjunan ini dilakukan dari pesawat Hercules yang terbang rendah sekitar 1000 kaki dari permukaan tanah. 

Latihan Pasukan Lanud Abdurrahman Saleh yang pertama kali di Jember itu menarik perhatian warga, sehingga ratusan warga beramai-ramai menonton atraksi latihan prajurit TNI AU tersebut.

Sumber : (Antara)

Friday, April 24, 2015

Marinir Ujicoba Munisi Serbia Kaliber 105 mm

Ujicoba munisi 105mm buatan Serbia (all photos : Marinir)

Batalyon Howitzer-1 Marinir Melaksanakan Latihan Menembak Ujicoba Munisi Serbia 105 mm

Dispen Kormar (Situbondo). Komandan Batalyon Howitzer-1 Mar Mayor Marinir Fentje R Manusiwa memimpin uji coba amunisi Serbia di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Baluran, Karangtekok, Situbondo, Kamis (23/4/2015).


Uji coba dengan menggunakan dua pucuk Meriam Howitzer 105 mm tersebut juga dihadiri Kolonel Cpl Saiful Rachman dari Alpal TNI, Kolonel Laut (E) Sugianto,ST.Mm dari Kasubdislitbang Dislitbangal, Kolonel Laut (E) I.R Avando Bastari dari Alpal Slogal, Ka Arsenal Dissenlekal Kolonel Laut (E) Kawahab, ST., Sekdis Selekal Kolonel Laut (E) Budi Kalimantoro, Kalabinsen dislitbangal Kolonel Laut (E) Endarto Pantja Irianto,ST.MT dari, Komandan Resimen Artileri-1 Marinir Kolonel Marinir F.Simanjorang, Pandya 4 Alpal Slog TNI Letkol Cpl Budihartoi, Kasi Amo Subditsmat Mayor Laut (E) Edi Sujatmiko dan Pabanda Senmo III Alpal Slog TNI Mayor Cpl Dendy Sawaluddin Akbar, SE.

Maksud dan tujuan kegiatan uji coba dengan munisi Serbia tersebut yaitu sebagai gambaran kelayakan Amunisi tentang jarak jangkau maksimal tembakan, kesempurnaan pembakaran serbuk isian dan penyesuaian label tembak dari Prancis.

Sumber : (Marinir)

Empat F-16 C/D Dilengkapi Drag Chute Segera Diterima

F-16 A/B yang sudah dilengkapi drag chute (photo : ipenk)

JAKARTA - Mabes TNI AU memastikan pesawat tempur F-16 hibah dari Amerika Serikat yang akan diterima Indonesia secara bertahap mulai Mei mendatang. Empat unit dilengkapi dengan drag chute atau parasut yang berada di belakang pesawat segera tiba. 

”Pengiriman berikutnya itu sudah dilengkapi alat yang namanya drag chute ya. Jadi sudah ada perubahan spesifikasi. Kalau sebelumnya kan tidak ada drag chute, nanti sudah ada drag chute,” ujar Kadispenau Marsekal Pertama Dwi Badarmanto seusai pisah sambut di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta, kemarin. 

Menurut Dwi, pengiriman empat pesawat rencananya dilakukan pada Mei atau Juni dari total pemesanan 24 unit. Seluruh pesawat tersebut nantinya akan ditempatkan di Blok 25 Pekanbaru, Riau guna menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia. Terkait hasil investigasi, Dwi mengaku proses masih berjalan dan tim masih bekerja. 

Apalagi, proses investigasi itu melibatkan banyak pihak seperti orangorang yang punya pengetahuan dan pemahaman serta lembaga- lembaga terkait untuk terlibat dalam investigasi. ”Ini kan baru dimulai investigasinya. Benar-benar baru dimulai, jadi tunggu sajalah. Hasil investigasi pasti di-publish. Ini baru proses,” ucapnya. 

Pengamat militer M Muradi menilai, pengadaan drag chute merupakan kualifikasi standar pesawat tempur. Kalau tidak dilengkapi dengan alat tersebut maka ada yang bermasalah. ”Sebenarnya hibah bisa berhenti kalau ada kejadian luar biasa. Selesaikan saja program hibah selanjutnya beli baru kita punya uang banyak, itu kan membahayakan karena barang rekondisi,” katanya. 

Apalagi, pesawat hibah tersebut sebelumnya sudah digunakan oleh negara pembuatnya selama 30 tahun, dengan kultur dan cuaca berbeda. ”Kalau beli hibah, murah awalnya tapi lebih banyak biaya maintenance. Apa pun kejadiannya, ini menjadi cermin program pengadaan hibah,” ucapnya. 

Muradi menambahkan, pada 2017 program hibah telah berakhir dan tidak perlu diperpanjang lagi. Apalagi, pada tahun itu, anggaran militer menjadi 1,5% dari gross domestic product atau sekitar Rp160-170 trilyun/tahun.

Sumber : (Sindo)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Coupons