Total Pageviews

Friday, October 31, 2014

LSU, Drone Canggih Lapan

Drone atau pesawat tanpa awak merupakan alat pertahanan canggih yang ada saat ini. Drone tercanggih di dunia saat ini masih diproduksi Amerika Serikat (AS) dengan harga yang cukup mahal.

"Drone itu, Pak Jokowi mengatakan harganya Rp 3 triliun/unit. Mahal karena memang alat UAV pertahanan yang dibuat Amerika. Di Amerika dia bisa mengontrol sampai ke Afghanistan dan menghancurkan musuh," kata Laksamana (Purn) Tedjo Eddy di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (16/10/2014).

Sementara itu, Eddy mengakui, perusahaan lokal juga telah dapat memproduksi drone. Namun dalam hal teknologi, drone dalam negeri tidak secanggih AS.

"Kita ada industri dalam negeri yang mampu membuat drone dengan teknologi yang sudah ada. Mereka sudah hadir kemarin dan sudah diperlihatkan drone jaraknya baru 50 km, tetapi kan bisa dikembangkan," papar pria yang disebut-sebut jadi calon Menko Maritim pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) ini.

Walaupun teknologi drone dalam negeri masih terbatas, tetapi ia tetap bangga perusahaan lokal sudah bisa memproduksi drone. Apalagi dengan harga yang lebih murah, industri drone lokal dinilai akan semakin berkembang.

"Kita sudah bisa buat itu sehingga anggaran bisa dihemat," cetus Ketua Umum DPP Ormas Nasional Demokrat ini.

Drone atau pesawat tanpa awak di dalam negeri salah satunya sudah diproduksi oleh Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan). Lapan sudah membuat pesawat tanpa awak atau disebut Lapan Surveillance Unmanned (LSU) Aerial Vehicle.

Lapan sudah memulai memproduksi pesawat tanpa awak sejak 2011, seiring pengembangan program penerbangan nasional. Pesawat tanpa awak pertama yang dibuat dan dikembangkan Lapan adalah jenis Lapan Surveillance UAV-01X.

Lapan Surveillance UAV-01X adalah jenis pesawat tanpa awak berukuran kecil yang membawa kamera seberat 1,5 kg. Cara menerbangkan pesawat ini cukup hanya dilempar dan dapat mengudara selama 30 menit sepanjang 40 km, dengan daya tinggi jelajah 500 meter.

Setelah itu, Lapan kemudian mengembangkan LSU 02 dengan ukuran dan tingkat daya jelajah lebih besar dibandingkan 01X. Teknologi yang digunakan juga jauh lebih tinggi dibandingkan 01X.

Lapan Surveillance Unmanned Aerial Vehicle-02 atau LSU 02 terbang sejauh 200 kilometer dengan kecepatan terbang mencapai 100 km/jam. LSU 02 memiliki bentang sayap 2.400 mm dengan panjang beda 1.700 mm. Pesawat tanpa awak ini dapat digunakan untuk keperluan Airbone Remonte Sensing dengan tinggi daya jelajah 3.000 meter.



Sumber : Detik

Karbol AAU Latihan Cakra Wahana Paksa

Sebanyak 100 Karbol AAU (Akademi TNI Angkatan Udara) beserta 37 Antap pendukung dan 26 personel crew, Rabu (15/10) melaksanakan kunjungan ke Lanud Sultan Hasanuddin dalam lawatannya melaksanakan latihan Cakra Wahana Paksa bagi Taruna tingkat IV Werving 2011 AAU, dipimpin langsung oleh Gubernur Akademi TNI Angkatan Udara Marsda TNI Sugihardjo,SE.M.M. Pada kesempatan tersebut, Kepala Staf Koopsau II Marsma TNI Yuyu Sutisna menyempatkan diri hadir menyambut kedatangan Gubernur AAU beserta rombongan di Gedung Galaktika Lanud Sultan Hasanuddin didampingi Komandan Wing 5 Kolonel Pnb M.Tonny Haryono, Para Asisten Koopsau II dan Kosekhanudnas II serta Para Kadis dan Komandan Satuan Jajaran Lanud Sultan Hasanuddin. 


Sesaat setelah tiba di Lanud Sultan Hasanuddin, para karbol langsung mengunjungi Mako Kosekhanudnas II di jalan P. Kemerdekaan Daya Makassar, kemudian kembali ke Lanud Sultan Hasanuddin untuk melihat langsung dari dekat Alutsista TNI AU yang ada di Skadron Udara 11 Wing 5 yang merupakan home base pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK2 dan SU-27 SKM yang diterima langsung Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb David Y. Tamboto, dan Skadron Udara 5 Wing 5 home base pesawat Boeing 737 Intai Strategis dan CN 235 MPA, diterima langsung Komandan Skadron Udara 5 Letkol Pnb Bambang Sudewo. 


Selain melihat dari dekat Alutsista TNI AU yang ada di skadron udara 11 dan Skadron Udara 5, para Karbol juga menerima paparan dari para perwira Skadron, tentang visi dan misi serta tugas dan tanggung jawab Lanud Sultan Hasanuddin yang merupakan Lanud dalam jajaran Koopsau II. Lanud Sultan Hasanuddin mempunyai tugas menyiapkan, melaksanakan pembinaan dan pengoperasian seluruh satuan dalam jajarannya dan melaksanakan pembinaan potensi dirgantara serta menyeleggarakan dukungan operasi bagi satuan lainnya, sesuai dengan Keputusan Kepala Staf TNI AU Nomor: Kep/06/II/2005 Tanggal 14 Februari 2005 tentang pokok-pokok organisasi dan prosedur. 


Usai kunjungan dilanjutkan dengan pemberian cindera mata dan kegiatan foto bersama Gubernur AAU dengan para pejabat Koopsau II, Lanud Sultan Hasanuddin, Kosekhanudnas II, beserta para Ketua Pia Ardhya Garini dari masing-masing satuan, serta para Karbol AAU, kemudian menuju ke Lanud Wolter Monginsidi Kendari untuk melanjutkan pelaksanaan latihan Cakra Wahana Paksa.
Sumber : TNI AU

Pembentukan Satuan Ranger TNI AD

Pagi ini sampai tengah hari nanti, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan berada di Akademi Militer (Akmil) Magelang dalam rangkaian kunjungan dua hari di DIY dan Jateng.  Di kota ini, menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai RI 1, SBY akan menyempatkan untuk meresmikan Satuan Ranger di lokasi pendidikan calon tentara tersebut.

“Di Magelang, SBY memiliki sejumlah agenda salah satunya meresmikan Satuan Ranger di Akmil,” ungkap Kepala Penerangan (Kapen) Korem 072/Pamungkas Yogyakarta, Mayor Inf M Munasik, Jumat (17/10).


Selama berada di Akmil, SBY yang juga didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II juga akan mendengarkan paparan yang disampaikan Kasad Jendral TNI Gatot Nurmantyo.


Paparan tersebut secara garis besar menerangkan alasan perubahan Satuan Linud menjadi Satuan Ranger di bawah Kodam IV/Diponegoro. “Di lapangan Sapta Marga dan sebelum memberikan pengarahan, Bapak Presiden juga akan menyerahkan Brevet Ranger,” imbuh Munasik.


Setelah mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan di Akmil, rombongan Presiden akan bertolak kembali ke Jakarta via Bandara Adisutjipto Yogyakarta sekitar pukul 11.30 dan dilepas Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X.


Sebelumnya, kemarin SBY beserta Ibu Negara menghabiskan waktu di Kota Jogja untuk bernostalgia kala mengunjungi Makorem 072/Pamungkas. Kebetulan medio 1995, SBY juga pernah memimpin Korem tersebut tak lebih dari setahun.


Tak hanya itu, bertempat di Gedung Agung, Yogyakarta, SBY juga mengundang 20 netizen dalam acara Kopdar Pamitan. Ke-20 pegiat sosial media itu merupakan pemenang kuis yang diadakan akun twitter milik SBY @SBYudhoyono.
Sumber : SM

Thursday, October 30, 2014

Natuna, Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui

Doktrin pertahanan yang bernama “masuk dulu baru digebuk” sudah mulai ditinggalkan oleh pengawal republik dan berganti baju dengan “berani masuk digebuk”. Ini sejalan dengan hakekat rencana pembentukan Kogabwilhan yang menyatukan komando matra darat, laut dan udara dalam satu komando gabungan di hotspot yang diprediksi menjadi pusat konflik teritori.  Setidaknya ada 4 hotspot yang disiapkan, dua diantaranya hotspot teritori yaitu Ambalat dan Natuna.  Dua lainnya adalah hotspot separatis yaitu Aceh dan Papua.
Natuna adalah hotspot yang harus dipersiapkan untuk menjadi titik tumpu pertahanan berskala brigade gabungan.  Pembangunan pangkalan angkatan laut dan udara saat ini untuk bisa menampung beberapa kapal perang dan jet tempur secara permanen merupakan keniscayaan untuk memastikan doktrin berani masuk digebuk, bisa dipercaya.  Bukan apa-apa, kita sedang berpacu dengan waktu karena demam yang tak kunjung usai bahkan tensi semakin meninggi dengan aura sengketa batas teritori yang saling berklaim di seberang pagar Natuna yang kaya itu.
Unjuk kekuatan di Surabaya, HUT TNI ke 69
Pembangunan pangkalan militer di Natuna untuk ketersediaan alat tempur utama yang dibutuhkan seperti kapal perang berkualifikasi striking force, sejumlah jet tempur, helikopter tempur, satuan radar, satuan peluru kendali anti serangan udara, batalyon infantri dan intelijen gabungan.  Memperkuat Natuna mirip-mirip dengan memperkuat Tarakan di Kaltara ketika konflik Ambalat memanas beberapa tahun silam. Natuna hampir sama dengan Tarakan, sama-sama sebuah pulau yang disekitarnya kaya dengan sumber daya alam tak terbarukan.
Saat ini di pulau Tarakan sudah tersedia brigade gabungan AD, AL dan AU.  Lanud Tarakan sudah dinaikkan kelasnya, mampu “menginapkan” jet tempur segala jenis, sudah tersedia satuan radar militer, pangkalan AL sedang dikembangkan, kapal perang berpatroli rutin setiap saat.  Di Nunukan juga sudah dipersiapkan 1 brigade TNI AD berikut satuan intelijen dan satuan radar yang mampu mengawasi pergerakan pesawat di Sabah Malaysia.  Hasilnya, jiran sebelah tak segalak dulu lagi, bahkan suaranya sudah “nyaris tak terdengar” di sekitar Ambalat.
Latihan gabungan AU dan AL dengan komando Hanudnas selama sepekan ini yang berakhir di penghujung Oktober 2014 di Natuna, Batam, Dumai dan Pontianak adalah untuk menguji koordinasi, komunikasi dan kecepatan respons terhadap adanya ancaman di garis border itu.  Tiga jenis jet tempur dilibatkan yaitu 4 Sukhoi, 6 F16 dan 8 Hawk bersama sejumlah kapal perang yang disiagakan di Dumai, Batam dan Natuna. Pesan jelasnya adalah mensimulasikan doktrin berani masuk digebuk, termasuk adanya force down pesawat sipil Singapura yang nyelonong masuk teritori pada saat latihan itu berlangsung.
Sukhoi dan F16 di langit Jakarta, 17 Agustus 2014
Kehadiran militer berkualifikasi siap tempur di Natuna bersama sejumlah alutsistanya sejatinya mendapat dua manfaat sekaligus.  Dalam beberapa tulisan terdahulu kita berpandangan bahwa pembangunan kekuatan militer di Natuna seperti peribahasa, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.   Maksud utamanya adalah untuk menjaga teritori kita dari ancaman “lidah naga”. Benarlah kemudian karena ternyata pembangunan pangkalan militer itu memberikan manfaat kedua, mampu memberikan nilai gentar pada negara jiran. Beberapa pendapat di forum militer Malaysia memberikan makna strategis bagi militer Indonesia karena pangkalan militer Natuna dikhawatirkan mampu memberikan sekatan alias blokade militer dari Semenanjung Malaysia ke Sarawak dan Sabah jika konflik terjadi di Ambalat.
Kita meyakini bahwa dalam waktu 2-3 tahun ke depan Natuna sudah tersedia kekuatan menyengat untuk pihak lawan yang ingin mengganggu.  Natuna memang dipersiapkan model pertahanan sarang lebah untuk musuh dari Utara namun kalau ada tetangga kiri kanan yang merasa khawatir, itu adalah dampak dari strategi pertahanan RI yang bermain cantik tanpa harus menyinggung perasaan tetangga. Kalau mau khawatir sih boleh-boleh saja. Kita juga khawatir jangan-jangan Natuna juga diklaim atau mau dicaplok. Jadi pembangunan pangkalan militer di Natuna adalah implementasi konsep Kogabwilhan untuk membentengi diri dari kekuatan Utara yang punya ambisi ekspansi teritori.
Sudah tentu isian alutsista untuk memperkuat militer Indonesia di renstra kedua MEF ini akan semakin gahar lagi.  Disamping mempersiapkan Natuna juga mempersiapkan Biak untuk home base skuadron tempur dan Sorong untuk home base Marinir yang dikembangkan menjadi 3 divisi.  Sangat wajar dengan tambahan 2-3 skuadron tempur dalam lima tahun ke depan bersama 100 tank Amfibi dan sejumlah kapal selam, fregat,korvet atau KCR.  Alutsista jenis lain yang diprediksi datang adalah satuan peluru kendali anti serangan udara jarak sedang, sejumlah radar militer, pesawat UAV. 
Natuna adalah pertaruhan kehormatan dan harga diri kedaulatan.  Mempersiapkan Natuna adalah dalam rangka pertaruhan kedaulatan itu dari kacamata militer.  Jangan lupa ruang diplomasi yang menjadi kekuatan tawar setara itu harus dibayangi dengan kekuatan militer agar tidak ada unsur “anggap enteng” karena sekali lagi negara yang kekuatan militernya setingkat anjing kampung akan ditertawakan oleh pihak sana.  Jadi disamping punya keandalan dan kecerdasan diplomasi juga harus dikawal dengan kekuatan milter segahar herder.
 
 
Sumber: Analisis

Pesan Vladimir Putin Untuk Jokowi

Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim utusan khusus dari negaranya untuk menghadiri pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden RI. Dia adalah Menteri Industri dan Perdagangan Denis Manturov.

“Pemerintah kami mengirim utusan khusus untuk seremoni inaugurasi Pak Joko Widodo, beliau adalah Pak Denis Manturov, menteri industri dan perdagangan Rusia,” kata Dubes Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (15/10/2014).


Selain menjabat sebagai menteri, Denis juga kini duduk sebagai co-chairman dalam Komisi Ekonomi Rusia dan Indonesia.


Menurut Galuzin, kehadiran utusan khusus dalam pelantikan sebuah kepala negara merupakan pesan bahwa hubungan bilateral antara kedua negara sangat baik. Baik Indonesia maupun Rusia sudah menjadi negara sahabat dan partner dalam berbagai bidang.


Gulazin berharap, kerjasama yang selama ini sudah terjalin dengan baik di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dapat berlanjut di kepemimpinan Jokowi-JK.

“Kami sudah sukses dalam kerjasama di bidang ekonomi dan mencari solusi atas berbagai isu. Kami berharap langkah positif ini bisa berlanjut dan melaju lebih baik di bawah kepemimpinan Pak Joko Widodo,” tambahnya.
Sumber : Detik

Upacara Penurunan Ular-Ular Perang KRI Tanjung Fatagar-974

Kepala Staf Komando Lintas Laut Militer (Kaskolinlamil) Laksamana Pertama TNI Karma Suta, S.E., memimpin pelaksanaan upacara penurunan ular-ular perang KRI Tanjung Fatagar-974 yang merupakan salah satu unsur kapal perang TNI Angkatan Laut di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) sekaligus menandai berakhirnya pengabdian sebagai Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), bertempat di Dermaga Semampir Koarmatim ujung Surabaya, Rabu (15/10).

Upacara militer yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Arief Rahmat Bintoro yang sehari-hari bertugas sebagai Komandan KRI Teluk Parigi-539, Kaskolinlamil saat membacakan sambutan Pangkolinlamil Laksamana Muda TNI Arie H. Sembiring yang mengatakan, bahwa ular-ular perang merupakan salah satu sarat sebuah kapal menjadi suatu kapal perang yang selalu berkibar di tiang gafel, oleh sebab itu saat ini dapat dijadikan sebagai suatu peristiwa resmi yang menandakan berakhirnya perjalanan sejarah pengabdian sebuah KRI Tanjung Fatagar-974 sebagai unsur kekuatan TNI Angkatan Laut.

Lebih lanjut Kaskolinlamil menjelaskan, bahwa KRI Tanjung Fatagar-974 sebelumnya merupakan kapal Pelni yang bernama KM Rinjani dengan melayani rute pelayaran dalam negeri selama 21 tahun. Kapal ini dibuat di Galangan JOS L Meyer Papenburg Jerman pada 3 Oktober 1983 yang memulai peluncurannya pada 18 Februari 1984. Kemudian dihibahkan kepada TNI Angkatan Laut pada 20 Juli 2005, selanjutnya memperkuat jajaran Kolinlamil sebagai kapal bantu angkut personel dalam operasinya untuk mendukung pergeseran personel dan material untuk Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Mengingat KRI TFG-974 saat ini telah melebihi maksimal batas usianya, untuk itu sudah layak diistirahatkan dalam kenangan bangsa yang penuh dengan kebanggaan dan kejayaan TNI Angkatan Laut.

Dalam upacara penurunan ular-ular perang kapal yang memiliki ukuran panjang seluruh 144 m, lebar 23 m, draft 5,9 m, DWT 3400 ton, GRT 3947,80 ton, dan NRT 8583,82 ton tersebut turut dihadiri oleh Kasarmatim, Danguspurlatim, Wakil Gubernur Akademi Angkatan Laut, Wadan Kobangdikal, Dan Lantamal V, Dan Pusdik Opsla, mantan Komandan KRI TFG-974 serta perwira, bintara, tamtama prajurit Satlinlamil Surabaya.



Sumber : TNI AL

Panglima minta perwira TNI paham ekonomi

Panglima minta perwira TNI paham ekonomiPanglima TNI Jendral Moeldoko mengundang guru besar Boston University, Profesor Gustav Papanek, untuk memberikan kuliah umum tentang perekonomian dunia kepada seluruh perwira menengah (pamen) TNI dan perwira tinggi (pati) di jajaran TNI. Acara itu berlangsung di Aula Gatot Subroto, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (30/10).

Moeldoko mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk memberikan wawasan kepada 408 anggota TNI tentang kondisi perekonomian di Indonesia. Moeldoko mengatakan, kekuatan pertahanan dan kesejahteraan serta perekonomian memang tak bisa dipisahkan.

"Kegiatan ini untuk menambah pengalaman baru, kepada para perwira TNI. Bagaimana melihat kondisi perekonomian Indonesia ke depan. Sebuah negara dengan pertumbuhan ekonomi baik, dapat dipastikan kekuatan militernya akan terbangun dengan baik," kata Moeldoko.

Moeldoko menambahkan, dengan adanya kegiatan seperti ini bisa membuat prajurit-prajurit TNI bisa berkontribusi dan berpartisipasi untuk membangun infrastruktur di Indonesia. Menurut Moeldoko, ke depannya tantangan ekonomi untuk membangun negeri ini akan semakin berat karena harus bersaing dengan negara-negara lain.

"Saya pikir bagi prajurit tni harus bisa memberikan kontribusi atas partisipasi, sebagai contoh prajurit saya membangun jalan di Papua, membangun pelabuhan di perbatasan, Aceh juga meminta membangun infrastruktur. Karena ke depan persaingan ekonomi dengan negara-negara lain akan semakin kuat," tegasnya.

Ke depan Panglima TNI akan sering melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini untuk menambah wawasan prajurit baik dalam bidang ekonomi, hukum, ataupun politik.

"Kuliah ini hal yang baru bagi kita, mungkin akan kita lakukan secara berkala atau periodik. Mungkin ada pakar politik atau hukum yang akan menjadi pembicara nantinya. agar perwira kami bisa memahami pandangan nasional dan pandangan ekonomi," tandasnya.

Panglima: TNI turunkan pesawat asing agar kita tak dipermainkan

Panglima: TNI turunkan pesawat asing agar kita tak dipermainkanPesawat tempur Sukhoi TNI beberapa kali memaksapesawat asing mendarat karena melanggar batas udara milik Indonesia. Panglima TNI Jenderal Moeldoko menegaskan hal itu dilakukan agar pihak asing tak seenaknya melanggar kedaulatan udara Tanah Air.

"Bagi Indonesia kedaulatan adalah segalanya. Saya pikir negara lain juga memahami atas upaya mempertahankan kedaulatan di Indonesia, karena TNI itu memiliki tugas mengamankan negaranya. Jadi yang kita lakukan adalah melakukan pemaksaan dalam rangka menekan kedaulatan," kata Moeldoko di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (30/10).

"Kenapa kita paksa harus turun? Karena kalau ini tidak lakukan secara tegas nanti dijadikan permainan oleh mereka," tegas Moeldoko.

Moeldoko menuturkan, tindakan tegas itu agar menjadi peringatan kepada negara lain sistem persenjataan udara milik Indonesia tidak bisa dipermainkan. Menurut Moeldoko, saat sistem radar milik TNI AU sudah cukup memadai untuk mendeteksi adanya pesawat asing yang masuk wilayah Indonesia.

"Ini menunjukan bahwa kita selalu siaga. TNI selalu siaga dengan alutista-alutista yang kita punya. Kita punya radar-radar yang cukup memadai untuk hal itu. Walaupun masih belum sepenuhnya nanti ke depan pasti akan kita majukan lagi. Jadi intinya adalah dalam konteks menjaga kedaulatan itu tidak ada toleransi," tandasnya.


Sumber: Merdeka

Kerjasama Militer tak Biasa Indonesia dan Turki

Kerjasama Militer tak Biasa Indonesia dan Turki

Pemerintah Turki dalam perayaan kemerdekaan di Jakarta paparkan kerjasama militer dengan Indonesia. | (Sindonews / Victor Maulana)
JAKARTA - Pemerintah Turki menyatakan, kerjasama militer antara Indonesia dengan Turki tidak biasa. Kerjasama militer kedua negara ini bukan dalam bentuk jual beli senjata dan latihan perang.
 
Menurut Duta Besar Turki untuk Indonesia, Zekeriya Ekcam, Indonesia dan Turki sejak awal lebih fokus melakukan kerjasama militer dalam bidang pengembangkan teknologi.
 
”Bentuk kerjama militer antara Indonesia dan turki bukan berbentuk latihan (perang) bersama atau sejenisnya,  melainkan kerjasama dalam memproduksi barang-barang elektronik militer,” ujar diplomat Turki itu, Kamis (30/10/2014).
 
Dia menambahkan, bahwa Turki hanya memproduksi alat-alat yang tidak bisa membunuh. Contohnya, radio komunikasi. "Kami hanya memproduksi sesuatu yang berfungsi untuk perdamaian, bukan memproduksi senjata,” lanjut dia.
 
Seperti diberitakan sebelumnya, Ekcam telah menegaskan bahwa bentuk kerjamasa Indonesia dan Turki lebih fokus kepada pengembangkan teknologi, seperti alat pembuatan komunikasi dan elektronik, bukan jual beli senjata perang.


Sumber: Sindo

Wednesday, October 29, 2014

Turki Ingin Bantu Kembangkan Teknologi Indonesia

Turki Ingin Bantu Kembangkan Teknologi Indonesia
Turki dalam perayaan Hari Kemerdekaan-nya di Jakarta ingin membantu mengembangkan teknologi Indonesia. | (Sindonews / Victor Maulana)
JAKARTA - Duta Besar Turki untuk Indonesia, Zekeriya Ekcam, mengatakan, Indonesia sudah jadi mitra Turki dalam waktu yang sangat lama. Namun, kerjasama yang diusung kedua negara bukan kerjasama seperti pada umumnya.
 
”Bentuk kerjasama kami dengan Indonesia, bukan berbentuk jual beli barang, tapi bentuk kerjasama yang kami lakukan adalah kerjasama di bidang teknologi,” ucap Akcam.
 
Saat ditemui Sindonews.com dalam perayaan Hari Nasional Turki, di salah satu hotel di Jakarta pada Kamis (29/10/2014), Ekcam menyatakan, bahwa Turki bukan hanya ingin bekerjasama, tapi juga ingin membantu mengembangkan teknologi di Indonesia.
 
”Contohnya seperti mengembangkan teknologi militer, kami juga memiliki kerjasama dengan perusahaan elektronik, sehingga kami juga bisa turut mengembang industri di Indonesia,” imbuh dia.
 
Dalam perayaan Hari Kemerdekaan ke-31 Turki itu, turut hadir oleh beberapa duta besar negara sahabat dan beberapa pejabat tinggi Indonesia. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti juga tampak hadir.


Sumber: Sindo

Menjadi 'World Class Navy', Masa Depan TNI AL


KRI pada HUT TNI 69

TNI Angkatan Laut (TNI AL) menyatakan komitmennya untuk menjadi "world class navy". Langkah itu penting mengingat Indonesia merupakan negara maritim yang besar. Komitmen tersebut semakin kuat seiring niat Presiden RI Joko Widodo yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

"Kita banyak mengirim perwira kita ke dalam dan luar negeri untuk mengambil ilmu akademis yang mendukung kemampuan ketentaraan seperti ke AS dan Australia. Menteri Pendidikan juga memberikan dukungan 100 prajurit melanjutkan studi S2 dan S3 untuk TNI AL," kata Kadispenal Laksma TNI Manahan Simorangkir, Selasa, 28 Oktober 2014, dilansir Media Indonesia.

Menurut Kadispenal, sejumlah upaya terus dilakukan oleh TNI-AL untuk mencapai tujuan tersebut. Mulai dari pembenahan operasional, peningkatan kapasitas SDM, hingga pembenahan di sektor-sektor lainnya.

Pengakuan TNI AL sebagai "world class navy" juga muncul dari berbagai pihak, termasuk dari Angkatan Laut AS (US Navy). Apalagi, selama ini TNI AL selalu turut serta dalam berbagai kegiatan angkatan laut level internasional seperti di Lebanon, Australia, dan negara-negara lainnya.

TNI AL juga terus berupaya memenuhi standar kebutuhan pokok minimum dan kelayakan alutsista hingga tahun 2026 mendatang. "Itu kampanye kita di laut meskipun kurang mendapat publikasi serta tidak mudah untuk melakukan reportase apa yang telah kita perbuat," kata Kadispenal. ''TNI-AL berharap pemenuhan alutsista yang telah dipelopori mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dapat diteruskan,'' tuturnya.

Sebelumnya, KASAL Laksamana TNI Dr. Marsetio melakukan pertemuan bilateral dengan U.S. Secretary of the Navy (Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat) di JW Marriot Hotel, Medan, Sumatera Utara,  Sabtu malam, 25 Oktober 2014. Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai topik, termasuk pentingnya hubungan kerja sama yang baik antara US Navy dan TNI AL, serta potensi kerja sama militer di masa mendatang.


Sumber: Artileri

Jauhi Perang, Indonesia Anut Diplomasi Tegas & Bermartabat

Jauhi Perang, Indonesia Anut Diplomasi Tegas & Bermartabat

Menlu baru Indonesia, Retno LP Marsudi paparkan model diplomasinya. | (Sindonews / Victor Maulana)
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno LP Marsudi, menyatakan, Indonesia selain akan menganut diplomasi pro-rakyat, juga menganut diplomasi tegas dan bermartabat.

Alasannya, Indonesia adalah negara besar dan model diplomasi seperti itu sudah menjadi keharusan.

Menurut Menteri Retno, ketegasan bukan berarti harus melakukan konfrontasi atau perang. Sebaliknya, konfrontasi, kata dia, bukanlah jalur utama yang akan diambil Indonesia dalam menyelesaiakan semua masalah.

”Bukan masalah nyaring atau tidaknya, yang penting adalah apakah kepentingan Indonesia, kepentingan nasional dapat diacapai,” ucap Retno. Menurutnya, tegas bukanlah keras, sehingga jalur konfrontasi sebisa mungkin akan dihindari.

Retno menmbahkan bahwa Indonesia akan segera menyelesaikan beberapa masalah, terutama mengenai batas wilayah maritim yang memang kerap menjadi sumber masalah.

”Memang sudah ada beberapa yang sudah selesai, namun masih ada juga beberapa masalah lainnya yang harus kita selesaikan,” kata Menlu wanita pertama Indonesia itu.

Dalam paparannya, Retno juga menyatakan akan berusaha merangkul semua pihak terkait, baik di dalam atau pun luar negeri. 

Menurutnya, Kemlu tidak bisa bekerja sendirian untuk bisa menyelesaikan semua masalah yang ada, namun butuh kerjasama dengan lembaga dan kementerian lain yang terkait.


Sumber: Sindo

Rapor Kemhan Kabinet Indonesia Bersatu II 2009-2014

Masa tugas Kabinet Indonesia Bersatu jilid II tinggal seminggu lagi. Kementrian Pertahanan selaku salah satu lembaga di Kabinet Indonesia Bersatu, boleh dibilang cukup berhasil dalam program kerjanya selama 5 tahun terakhir. Bagaimana tidak, dalam 5 tahun terakhir terjadi perkembangan sangat signifikan di bidang Alutsista dan Anggaran. Dan artikel disini kali ini kami batasi hanya dalam bidang perkembangan alutsista saja.

Dalam bidang pengembangan postur pertahanan, Kemenhan telah mencanangkan Program Minumum Essensial Forces yang dibagi dalam 3 tahap hingga 2024. Di tahap pertama ini, program MEF Kemenhan bisa dibilang melebihi target.  Dari data yang ARC dapatkan, terlihat dari 24 kegiatan prioritas dengan pendanaan luar negeri, sebanyak 5 kegiatan selesai, 8 dalam proses produksi, 9 kegiatan tahap pengiriman, dan dalam proses ada 2 kegiatan. 8 kegiatan diantaranya selesai usai oktober 2014. Selengkapnya lihat tabel dibawah. 
Namun demikian, ada pula beberapa alutsista yang hingga kini masih dicarikan pinjaman. Diantaranya soal pengadaan Panser BTR-4, satu baterai MLRS 122mm, Kapal layar latih serta heli AKS.

Dalam beberapa kegiatan pengadaan, Kemenhan justru melebihi target yang dicanangkan dalam MEF 1. Diantaranya adalah pengadaan MBT dimana awalnya hanya menargetkan 44 unit, namun bisa didapat hingga 164 unit (Leopard dan Marder), lalu pengadaan heli serang Fennec dimana awalnya dianggarkan hanya 8 unit, namun ternyata bisa terbeli hingga 12 unit. Dan pengadaan lainnya seperti dalam tabel dibawah ini. 
Add caption
Selain itu ada pula program dengan pembiayaan On Top, seperti pengadaan heli Serang Apache, 24 Unit F-16, serta pengadaan pesawat angkut Hercules eks Australia. Pengadaan dengan skema On top ini guna mengakselerasi kekuatan pertahanan TNI.

Selain pembelian dari luar, Kemenhan juga memberdayakan perindustrian pertahanan nasional melalui Pendanaan dalam negeri. Diantara alutsista itu adalah Panser Anoa, Platform KCR-40 dan 60, kapal angkut tank hingga CN-235 MPA.

Meski belum sempurna, prestasi ini memang layak kita acungi jempol.  Dalam tahap pertama saja, sudah demikian majunya persenjataan TNI. Semoga saja program ini dilanjutkan pada kabinet pemerintahan berikutnya. Terima kasih pak Purnomo dan pak Sjafrie.
Sumber : ARC

Alutsista TNI Akan Gunakan Teknologi Anti Radar

Sebuah teknologi anti radar dikembangkan oleh TNI dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Teknologi ini diharapkan mampu memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) milik TNI.


Wakil Ketua Dewan Juri Lomba Inovasi TNI 2014, Avanti Fontana menjelaskan, teknologi ini diciptakan dengan menggunakan bahan dasar cangkang udang (chitosan) dan tulang ikan (hidroksiapatit). Adapun pengembangan teknologi ini telah dilakukan sejak 2011 lalu.


Menurut Ketua Umum Yayasan Planet Inovasi itu, sistem kerja utama alat itu yakni dengan menyerap pantulan gelombang frekwensi radar musuh yang dilayangkan ke alutsista milik TNI. Dengan diserapnya gelombang tersebut, maka musuh tak dapat mendeteksi kendaraan yang digunakan TNI dalam menjalankan operasinya.


“Inovasi ini jelas membantu meningkatkan peran dan tugas TNI,” kata Avanti disela-sela pemberian penghargaan Inovasi Panglimat TNI 2014 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (12/10/2014).


Pengembangan teknologi ini dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa IPB, yang terdiri dari Bambang Riyanto, Akhiruddin Maddu, dan Esa Ghanim Fadhallah.


Ketiga orang itu akhirnya didapuk menjadi salah satu tim pemenang dalam ajang Inovasi Panglima TNI 2014. Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun, mengapresiasi pengembangan teknologi tersebut. Ia meminta agar penelitian dan pengembangan teknologi itu dapat dipercepat sehingga dapat segera diaplikasikan di alutsista TNI.


Terpisah, Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan, TNI akan menggandeng PT Pindad dalam pengaplikasian teknologi ini. Di samping itu, TNI juga berencana agar teknologi ini dapat diproduksi secara masal. Meski demikian, ia mengatakan uji coba atas alat anti radar itu harus diuji coba terlebih dahulu di Badan Litbang TNI.
Sumber : Kompas

Kadislitbang TNI AU Cek Persiapan DAHANA

PT DAHANA (Persero) kini tengah menggarap persiapan produksi bahan peledak militernya, yaitu bomb P 100 Live untuk amunisi pesawat Sukhoi. Sebelum jauh memasuki produksi massal, Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Amirudin Akhmad mengecek langsung perkembangan persiapan alat produksi yang dimiliki oleh Dahana yang berada kawasan Energetic Material Center (EMC) Dahana Subang. Kedatangan Amirrudin Akhmad pada Selasa, 30 September 2014 bersama timnya disambut langsung oleh F. Harry Sampurno Direktur Utama PT DAHANA (Persero) beserta tiga direksi lainnya.


“Kami ingin mengetahui, sudah sejauh mana perkembangan persiapan proyek Bomb P 100 L yang sudah dilakukan oleh DAHANA, karena sebelum menuju produksi massal, DAHANA sudah harus mempersiapkan Protoype P 100 L yang nantinya akan kami uji untuk mendapat sertifikasi, apakah cocok dengan kebutuhan kita,” terang Amirudin Akhmad kepada Dfile.


Untuk melihat langsung persiapan yang telah dilakukan oleh DAHANA, Tim EMC mengajaknya untuk meninjau langsung perlengkapan yang sudah dipersiapkan dan disimpan sementara di Gedung Workshop DAHANA. Nampak beberapa perlengkapan yang telah disiapkan pada tahap awal ini. Lempengan cetakan untuk uji kepadatan handak serta alat pemanas dan pendingin yang akan digunakan saat pengisian bahan peledak pada bomb produksi P 100L.  Tim juga diajak mengecek laboratorium sebagai tempat uji formula serta meninjau langsung pabrik meltpour yang nantinya sebagai tempat pengisian handak bomb pesawat Shukoi.


Melihat apa yang telah disiapkan oleh DAHANA, Amirudin Akhmad pun berharap DAHANA untuk segera menyelesaikan tahap awal pembuatan P 100 L. “Kita kan mulai lagi dari nol, jika melihat apa yang telah disiapkan untuk langkah awal sudah sangat memadai, oleh karena itu saya berharap ini secepatnya terealisasi agar nantinya bisa memasuki tahap produksi missal,” ujar Amirudin Akhmad.


Dalam menangani proyek ini, PT DAHANA (Persero) tidak sendirian, namun menggandeng perusahaan swasta untuk bekerjasama, PT Sari Bahari dalam pembuatan body P 100 L.

Bom P 100 L merupakan bomb yang akan dipasang pada pesawat Sukhoi. Bomb ini memiliki warna khas yaitu hijau yang panjangnya 1.130 mm dengan berat 100 sampai 125 kg, berdiameter 27 mm dan memiliki ekor yang panjangnya 410 mm.

Sumber : BUMN

Caesar, Howitzer Andalan Artileri TNI AD

Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki sejumlah alat tempur baru guna memperkuat pertahanan dan kemanan negara.

Salah satunya ialah meriam 155 Caesar. Alat pelontar roket ini memiliki daya jelajah hingga 600 kilometer.

Meriam yang memiliki daya jelajah 600 kilometer ini diproduksi di Prancis dan baru dimiliki TNI pada tahun ini.

Alutsista ini untuk melengkapi persenjataan Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 12 Divisi Infanteri 2 Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) di Ngawi dan Yonarmed 9 Divisi Infanteri 2 Konstrad Purwakarta.

Meriam ini dilengkapi dengan komputer balistik yang terintegrasi, global positioning system (GPS) dan MV radar.

Kemampuan roket ini memiliki jarak capai 39 kilometer dengan amunisi standar dan daya hancur ledakan di sasaran dengan radius 50 meter.

System Hanudnas Sebagai Kekuatan Penangkal RI

Pada masa sekarang kita sendiri menghadapi ancaman bagi kedaulatan dan penegakan hukum berupa aneka pelanggaran oleh pesawat atau kapal negara luar saat melewati atau menggunakan wilayah udara dan laut negara kita. Kebanyakan pelanggaran tersebut unchecked atau tak terawasi dan tak tertindak. 

Belum lagi bila kita perhitungkan ancaman dari udara berupa pesawat komersial yang dijadikan Rudal berawak dalam misi bunuh diri seperti peristiwa serangan udara 911 di AS. Ancaman faktual pertahanan udara kita saat ini antara lain pelanggaran wilayah udara yurisdiksi nasional oleh pesawat militer dan sipil asing, pelanggaran jalur alur laut kepulauan kita, pelanggaran wilayah udara nasional dibawah pngendalian negara lain, penerbangan gelap mendukung penyelundupan atau separatis, pelanggaran kegiatan survei udara dan pelanggaran pesawat negara tetangga yang terlibat sengketa perbatasan atau pulau-pulau terluar dengan kita. Hampir semua pelanggaran diakibatkan kurangnya Alutsista yang langsung bisa digerakkan oleh Kohanudnas dalam jumlah memadai dan disposisi kekuatan merata.

Sistem Pertahanan Udara Nasional yang kuat tidak hanya sekedar mengawal wilayah udara Indonesia namun akan secara signifikan meningkatkan daya tangkalnya dari kekuatan militer sebagai penyangga pilar perangkat kekuatan nasional kita. Berbagai kegiatan lintas wilayah udara ilegal atau pelanggaran aturan penerbangan pasti akan berkurang bila wilayah udara nasional diawasi dan dijaga secara penuh terus menerus sepanjang tahun. Tidak akan ada kekuatan lain yang akan membantu kita menegakkan Keunggulan Udara di atas wilayah negara kita kecuali mengandalkan kekuatan pertahanan udara kita sendiri.

Keunggulan udara akan membatasi atau membatalkan niat kegiatan ilegal di wilayah udara dan permukaan kita, sementara di sisi lain mampu melindungi kegiatan udara dan permukaan kita dari gangguan pihak luar. Kita sudah memiliki sebuah Komando Pertahanan Udara Nasional yang pada tanggal 9 Februari genap berumur 48 tahun telah mengawal kedaulatan negara di udara. Namun dalam kenyataannya sistem yang sudah bekerja dengan baik secara nyata mengawasi ruang udara selama 24 jam terus menerus tanpa henti masih memiliki beragam tantangan yang harus kita atasi bersama. Alutsista pertahanan udara adalah pesawat tempur buru sergap (interceptor), Radar udara (darat dan terbang) serta Rudal anti-pesawat. Sayangnya Kohanudnas yang membawahi empat Komando Sektor Hanudnas (Medan, Jakarta, Makassar, dan Biak) saat ini belum cukup efektif karena keterbatasan Alutsista yang dimilikinya, baik jumlah dan kemampuannya. Kohanudnas yang saat ini dalam kenyataannya hanya memiliki jajaran Radar militer yang dalam jumlah belum cukup memayungi ruang udara kita disamping sebagian sudah berumur dan kurang efektif lagi. 


Di sisi lain untuk keperluan penyergapan Kohanudnas menggunakan pesawat penyergap dari jajaran komando operasi lainnya, untuk Rudal anti-pesawat hanya mengandalkan Rudal anti-pesawat jarak pendek di bawah jajaran Arhanud dan belum memiliki satuan Rudal anti-pesawat jarak sedang. Untuk efektifitas dan kesiapsiagaan Kohanudnas sepanjang waktu sesuai semboyan operasi Siaga Senantiasa maka ketiga jenis Alutsista ini harus berada dalam jajaran Alutsista Kohanudnas.

Menurut Connie Rahakundini Bakrie, pengajar FISIP UI yang juga pengamat militer dan pertahanan dalam bukunya Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal menyebutkan idealnya TNI AU memiliki pesawat tempur penyergap (interceptor) sejumlah 744 unit dan pesawat tempur penyerang (ground attack) sejumlah 456 unit. Jumlah yang sangat mengesankan jika dibandingkan dengan kekuatan pesawat tempur AU menengah di Asia Pasifik seperti India (852 unit), Korea Utara (510 unit), dan Korea Selatan (493 unit). Namun ada baiknya kita lebih realistis dengan mengacu pada kemampuan keuangan negara dikaitkan dengan kebutuhan daya tangkal kuat yang mutlak dipenuhi sebelum jadi makin lemah dan berakibat langsung pada kekuatan negosiasi kita di dunia internasional.

Dalam buku Rencana Strategis Penataan Kohanudnas ke Depan (2009) yang disusun untuk menjadi pedoman dalam penataan Kohanudnas ke depan disebutkan beberapa poin menyangkut doktrin, organisasi, dan Alutsista Hanud. Menyangkut doktrin bisa disebutkan bahwa pembenahan melingkupi wewenang tugas yang harus lebih diperjelas dan dilindungi Undang Undang karena operasi Hanud langsung berkaitan dengan dunia internasional dan mempunyai implikasi pada keamanan nasional. Menyangkut organisasi disarankan Kohanudnas sebagai Komando Strategis dengan memiliki tanggung jawab mengawasi wilayah udara seluas daratan Eropa atau negara AS selayaknya dipimpin oleh seorang Perwira Tinggi setingkat bintang tiga dengan penyesuaian kepangkatan bagi jajaran di bawahnya. Terakhir dalam buku ini juga ditegaskan bahwa Kohanudnas harus diperkuat dengan penambahan serta modernisasi seluruh Alutsistanya.

Penambahan dan modemisasi pertama adalah menyangkut satuan Radar Hanud termasuk sistem komunikasi datanya agar pengawasan penuh ruang udara selama 24 jam berjalan baik, disamping itu perlu dilengkapi dengan Radar terbang untuk keperluan operasi Hanud pada lokasi dan situasi khusus sesuai kebutuhan operasi. Selanjutnya Alutsista pesawat tempur ditambahkan di jajaran Kohanudnas dengan membentuk Wing Buru Sergap dengan membawahi satu Skadron Buru Sergap (masing-masing 16 pesawat) di tiap Kosek Hanudnas (Medan, Jakarta, Makassar, dan Biak) maka secara total Kohanudnas memitiki empat Skadron Buru Sergap (64 pesawat). Bila setiap Skadron siap mengirimkan tiga flight pesawat buru sergap (masing-masing tiga-empat pesawat) maka total ada 12 pangkalan udara depan yang bisa menjadi ujung tombak penindakan pelanggaran udara. Terakhir disarankan Kohanudnas memiliki Wing Rudal Anti-Pesawat jarak sedang dimana keempat Kosek memiliki masing-masing satu Skadron Rudal, dimana setiap Skadron bisa mengirimkan empat flight rudal mobile untuk menghadapi ancaman udara di 16 titik strategis terdepan kita. 


Disamping itu dalam buku ini juga disampaikan perlunya kerjasama yang lebih erat dengan industri dalam negeri seperti sistem peralatan integrasi Kodal Hanud TDAS (Transmisi Data Air Situation) yang merupakan hasil kerjasama dengan vendor lokal. Demikian pula kerjasama dengan Dephub dan Perum Angkasa Pura dalam integrasi data Radar sipil dengan Radar militer dalam memantau ruang udara nasional, seperti yang juga dilaksanakan negara lain seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Uni Eropa. Untuk pengadaan Radar udara permukaan dan Radar terbang bisa menjalin kerjasama dengan negara-negara maju untuk membangun industri tersebut bersama industri dalam negeri, termasuk pembuatan Radar pasif yang mampu menangkap pesawat siluman (Stealth).

Semoga kita bersama-sama sepakat memandang bahwa paham liberalism saja tidak cukup untuk menjadi sokoguru perjuangan kita di kancah internasional, demikian pula paham realist yang memandang bahwa kekuatan militer adalah syarat utama dalam membela kepentingan nasional kita. Mari kita bersama memadukan kekuatan diplomasi yang secara sinergis dengan kekuatan ekonomi, kekuatan informasional, dan kekuatan militer kita untuk meningkatkan daya negosiasi kita dimasa depan. Pertahanan Udara Nasional yang kuat dengan sistem yang baik, personel berkualitas, dan Alutsista yang baik dan jumlah memadai akan sanggup meningkatkan daya tangkal dan rasa percaya diri bangsa sehingga memperkuat totalitas Instrument of National Power dalam membela kepentingan nasional kita. Tidak ada yang tidak bangga jika kita memiliki Komando Pertahanan Udara Nasional yang tangguh sebagai benteng terdepan dalam penegakan kedaulatan negara kita. Labda Prakasa Nirwikara.



Sumber : Pelita

SBY Berharap Jokowi Selesaikan Sengketa Dengan Malaysia

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan Joko Widodo yang menggantikannya mulai 20 Oktober 2014 melanjutkan upaya penyelesaian sengketa perbatasan dengan Malaysia.

Ada beberapa sengketa perbatasan dengan Malaysia yang tersisa dan diharapkan terus diupayakan penyelesaiannya oleh presiden mendatang, kata Presiden Yudhoyono saat menerima Tim Teknis Penetapan Batas Maritim RI di Istana Negara, Senin.

"Melalui forum ini saya menyerukan kepada Malaysia marilah kita dengan serius dan semangat yang tinggi untuk menyelesaikan sengketa perbatasan yang masih tersisa. Karena saya lihat, dengan Malaysia kurang nyata realisasinya dibandingkan dengan negara bangsa lain," katanya.

Masih ada empat titik perbatasan yang menjadi sengketa Indonesia dengan Malaysia yakni di Selat Malaka, Malaka Selatan, Laut Tiongkok Selatan dan Laut Sulawesi.

Presiden Yudhoyono akan menyelesaikan masa tugasnya pada 20 Oktober mendatang untuk digantikan Jokowi yang akan menjabat pada periode 2014-2019.

Di hadapan Tim Teknis dan para diplomat dan perunding penyelesaian sengketa perbatasan maritim, Presiden Yudhoyono berterima kasih atas keberhasilan dalam sejumlah kesepakatan perjanjian yang bersejarah.

Setidaknya, dua perjanjian perbatasan laut telah ditandatangani sepanjang 2014 sebelum Presiden Yudhoyono lengser.

Pertama Pada Mei 2014, Indonesia dan Filipina telah menandatangani perjanjian delimitasi Zona Ekonomi Eklusif dengan Filipina yang menjadi sengketa selama 20 tahun. Indonesia-Filipina memiliki perbatasan di Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik.

Sedangkan pada September 2014, Indonesia-Singapura juga menandatangani perjanjian penetapan garis batas laut di bagian Timur Selat Singapura yang mencakup area perairan Batam (Indonesia) dan Changi (Singapura).

"Status quo is not an option (bukan pilihan). Terima kasih Anda semua menjadi part of solution (bagian dari solusi) dan menjadi trouble-shooter (pencari solusi) bukan trouble-maker (pembuat masalah) karena banyak yang menjadi trouble-maker di negara ini," kata Presiden Yudhoyono.




Sumber : Antara

TNI AU Membangun Kekuatan Nasional Air Power

Keinginan untuk menjadikan TNI menjadi angkatan udara yang kuat dan disegani ternyata sudah sejak lama dikumandangkan oleh para pendiri bangsa ini. Keinginan ini jelas tercermin dalam pidato presiden RI kesatu salaku laksamana tertinggi udara pada hari peringatan 5 tahun AURI (sekarang TNI AU) 9 april 1951. “Beliau mengatakan jika angkatan perang kita hendak berdiri setaraf, setinggi dan sederajat dengan angkatan perang dumia internasional, maka kita harus mempunyai angkatan udara yang sebaik-baiknya”.


Makna dari penggalang pidato ini menandakan bahwa para pendiri bangsa sudah melihat jauh ke depan ketika terjadi perang di masa depan, maka kekuatan udara menjadi faktor penentu perang walaupun ibu dari semua perang adalah perang darat. Kekuatan udara yang kuat terbukti dengan beberapa perang yang terjadi di abad 21 era modern dan digital ini bagaimana AS mendominasi perang ketika terjadi perang teluk II dan invasi ke Irak, serta perang arab israel (perang yong kipur) yang menunjukkan kekuatan udara menjadi faktor penentu jalannya kemenangan.


Membangun dan memiliki sebuah angkatan udara yang kuat memang hukumnya wajib serta menjadi keharusan bagi bangsa sebesar Indonesia ini. Mari kita bernostalgia kembali mengenang sejarah bahwa kita bangsa Indonesia pernah menjadi kekuatan udara terkuat di belahan bumi selatan.


Pada awal tahun 1950-an kekuatan AU terdiri atas 25 pengebom B-25 mitchell skuadron udara 1. 29 pesawat C-41 dakota dan 30 pemburu P51 mustang di lanud halim perdana kusuma (waku itu lanud cilitan) 22 fluster di skuadron udara 4 lanud Atang Sanjaya bogor (waktu itu lanud semplak) dan PBY-50 catalina di skadron udara 5 lanud abdulrachaman saleh malang (waktu itu lanud bugis). Untuk pesawat latih terdapat 62 pesawat latih L-4J piper cup dan 46 pengebom latih BT-13 valiant serta 74 AT-16 harvard di lanud husein sastranegara (waktu itu lanud andir).


Selanjutnya pada periode 1960-an secara cepat dibangun skadron-skadron baru antara lain, skadron 6 dengan 41 helikopter Mi-4, Skadron 7 dengan 28 bell 204B, bell-47G dan S-61 serta skadron 8 dengan sembilan helikopter raksasa Mi-6 lanud atang senjaya. Kekuatan peswat tempur meliputi. Skadron 11 dengan 49 MiG-17, 30 MIG -15 serta 10 MIG 19 (skadron 12) di pangkalan udara kemayoran jakarta, skadron 14 dengan 30 MIG-21 di lanud iswahyudi. Untuk angkutan udara terdapat skadron 17 dengan 3 C-140 jetssta, 21 il -14 avia, C47, tujuh L 401/402 cessna dan skadron 31 dengan C – 130 B Hercules di lanud halim perdana kusuma, skadron 31 enam An-12B antonov di lanud huesein bandung. Untuk bagian pesawat pembom ditempatkan di skadron 21 dengan il-28 beagle di lanud kemayoran, skadron 41 dengan 14 Tu badger dan skadron 41 dengan 12 Tu 16/KS di lanud iswahyudi.


Dengan kekuatan udara yang ideal pada saaat itu siapa yang berani mengusik sang garuda?


Menjaga Langit Nusantara
 

Indonesia merupakan negara kepulauan yang berbentuk republik, terletak di kawasan Asia Tenggara. Indonesia memiliki lebih kurang 17.000 buah pulau dengan luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2. Berdasarkan posisi geografisnya, negara Indonesia memiliki batas-batas: Utara – Negara Malaysia, Singapura, Filipina, Laut Cina Selatan. Selatan – Negara Australia, Samudera Hindia. Barat – Samudera Hindia. Timur – Negara Papua Nugini, Timor Leste, Samudera Pasifik. Dibuthkan kerja keras untuk menjaga langit dirgantara ibu pertiwi dari gangguan Negara asing. Pada tahun 1960-an mungkin tidak begitu sulit AURI untuk melaksanakan tugas pokoknya mengawal langit dirgantara nasional. Pada masa itu, pengebom Tu 16 bisa terbang dari madiun ke Darwin untuk kemudian terus ke Andaman dan mendarat di medan, sebuah aksi show of force yang luar biasa mengagumkan.


Lain Dulu Lain Sekarang
 

Celakanya dunia tidak pernah berdamai dengan kelemahan, situasi dimana AU kita banyak memiliki kelemahan dan keterbatasan yang dimanfaatkan oleh sejumlah Negara tetangga untuk merongrong kedaultan kita. Aksi-aksi penerbangan gelap dan pelanggaran wilayah udara tidak mampu kita tangkal secara maksimal. Dahulunya kita adalah Negara dengan kekuatan udara yang diperhitungkan sekarang menjelma menjadi kekuatan udara di bawah rata-rata Negara asean yang mengakibatkan penurunan drastis kekuatan tempur udara kita. Implikasinya Negara tetangga kita tidak lagi memandang Indonesia menjadi Negara yang harus ditakuti dan disegani. Indonesia dianggap seperti garuda tanpa sayap dan macan tanpa taring inilah fakta yang harus kita semua cermati bersama. Beberapa kasus seperti amblat, lepasnya sipadan-ligitan, yang terakhir kasus pembangunan mercusar tanjung datuk dan perongrongan lain oleh Negara tetangga harus kita sikapi dengan serius jika kita tidak mau kecelongan untuk yang ke sekian kalinya.


TNI AU Membangun Lagi Kekuatan Udara
 
Menghadapi kenyataan dan kelemahan menurunnya kekuatan tempur TNI AU tidak boleh berputus asa, sebaliknya tanpa malu dan harus berani mengakui kelemahan dan kekurangann yang ada sebagai pemicu untuk membangun kekuatan tempur TNI AU menjadi lebih bertaji dan bertaring. Sebagai salah satu komponen pertahanan negara, TNI Angkatan Udara terus tumbuh berkembang seiring dengan dinamika pembangunan nasional dan perkembangan lingkungan strategis. Maka kebijakan yang ditempuh TNI Angkatan Udara yakni “Minimum Essensial Force” yang merupakan jawaban tepat untuk dilaksanakan. Harus diakui bahwa kekuatan militer yang tangguh dari sebuah negara merupakan detterent power untuk mencegah serangan dari musuh atau calon musuh. Oleh karena itu kita kagum dengan upaya Kabinet Indonesia Bersatu Jilid-II di bawah Presiden SBY yang memutuskan meningkatkan kemampuan militer (TNI) dalam konsep MEF yang akan dilaksanakan melalui rencana strategis 5 tahunan.


TNI Angkatan Udara akan terus menambah jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimilikinya, bahkan ada 102 alutsista baru pada rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014. Alutsista baru tersebut meliputi pesawat tempur F-16, T-50, Sukhoi, Super Tucano, CN-295, pesawat angkut Hercules, Helikopter Cougar, Grob, KT-1, Boeing 737-500. TNI AU juga akan melengkapi alutsista modern, seperti radar pertahanan udara, peluru kendali jarak sedang, dan pesawat tanpa awak.


SU 35 Calon Penjaga Langit Nusantara
 

Sukhoi SU-35
SU 35
TNI Angkatan udara memang harus selalu berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan dan peralatan militer canggih, serta mampu menjawab tantang di lingkungan regional yang akan memanas pada masa depan. Suasana kawasan yang panas akan konflik kepentingan dan penjarahan sumber daya alam ini jelas terlihat di kawasan regional, seperti bagaimana pada Bulan April 2014 yang lalu, tetangga selatan tempat peenerima suaka politik, Australia mengumumkan rencana pembelian 58 F-35 A Joint Strike Fighter buatan Lockheed Martin senilai $11.6 Miliar. Pesanan ini merupakan pesananan tahap kedua Australia dimana sebelumnya di tahun 2009, mereka juga sudah memesan 14 unit F-35 A JSF. Dengan kedua tahap pemesanan ini, maka Australia akan memiliki 72 F-35 A JSF yang diharapkan sudah full operasional pada tahun 2023.


Kondisi serupa tidak jauh berbeda dengan tetangga kita negara tempat menampung koruptor dan kekayaannya Singapura juga sudah menunjukkan minat yang sangat besar untuk mengakusisi varian F-35 JSF. Walapun ketertarikan ini belum dilanjutkan dengan pemesanan, namun berbagai sumber berita menyebutkan bahwa Singapura sejak tahun 2011 sudah melakukan study terhadap F-35B varian yang sama dengan Corps Marinir Amerika. Maka pada beberapa tahun kedepan lagi Indonesia akan dikepung dengan pesawat pesawat generasi kelima. Belum lagi sengketa laut china selatan memanaskan perseteruan di antara tiongkok dan negara-negara asean yang saling tunpang tindih mengklaim waliayah yang kaya akan sumber alam, apabila konflik terbuka terjadi di palagan laut china selatan tentu akan berimplikasi pada wilayah kita khususnya natuna dan kemungkinan kita terseret panasnya palagan LCS terbuka lebar.


SU 35 Tentu para warjagers dan sebagaian military fans boy sangat familiar dan mengidolakan pesawat tempur buatan rusia ini. Pesawat tempur multi peran Sukhoi Su-35 dibangun oleh Komsomolsk-na-Amure Aviation Production Association (KnAAPO) Rusia, merupakan versi modern dari Su-27. Pesawat yang sangat bermanuver ini mampu terbang dengan kecepatan 2,25 Mach (2.756 km/jam). Su-35 saat ini digunakan oleh Angkatan Udara Rusia. Su-35 didukung oleh dua mesin turbofan Saturn 117S dengan all-axis thrust-vector control (TVC) nozzles. Dengan afterburner, masing-masing mesinnya menghasilkan daya dorong 142 kN. Dengan bahan bakar penuh, Su-35 mampu terbang lebih dari 3.600 km Selain itu, pesawat tempur Su-35 ini dilengkapi dengan radar Irbis-E PESA yang disebut salah satu radar pesawat tempur tercanggih dari Rusia karena mampu mencari dan mendeteksi banyak sasaran baik di udara, darat dan permukaan laut dari jarak yang sangat jauh. Beberapa sumber menyebutkan bahwa radar Irbis-E PESA yang terpasang di Su-35 ini mampu mendeteksi pesawat tempur “siluman” F-35 dari jarak yang cukup jauh sehingga memliki efek gentar yang cukup tinggi jika berhadapan dengan pesawat tempur generasi ke 5 seperti F-35 dan F-22 sekalipun.


Untuk masalah persenjataan, jangan ditanya mengadposi mazhab rusia strooong karena tercatat Su-35 ini memiliki kemampuan untuk menggotong senjata seperti R-77, R-27, R-73, KH-29, KH-31, KH-59, Bomp pintar, dan berbagai jenis senjata lainnya. sebagian senjata ini sudah dimiliki oleh Indonesia.


Su-35 Merupakan jawaban dari dinamika geopolitik di kawasan. Dengan memiliki Su-35 maka TNI AU akan memberikan efek gentar yang sangat luar biasa di kawasan dengan kemampuan radar yang canggih, combat radius yang sangat jauh, kemampuan super manufer dan banyaknya senjata yang bisa digotong menjadikan pesawat tempur Su-35 menjadi mimpi buruk bagi para calon musug yang akan mengganggu kedaulatan wilayah Indonesia. Dengan kata lain akuisisi Su-35 merupakan kebangkitan kekuatan udara kita yang sejak lama mati suri dihiasi dengan pespur barat yang rawan akan embargo. Mengakuisisi Su-35 adalah pilihan yang cerdas karena memiliki banyak kelebihan yang akan sangat bermanfaat bagi modernisasi Militer Indonesia. Hal ini akan membuat kekuatan alutsista TNI menjadi meningkat secara significant. Kebangkitan kekuatan udara raksasa jilid dua sudah didepan mata semoga IFX dapat bersanding dengan Su-35 menjadi ujung tombak menjaga kedaulatan pertahanan wilayah udara Indonesia.


Kesimpulan
 

Sejarah mencatat di era Soekarno kita menjelma menjadi angkatan udara yang paling tangguh di belahan bumi bagian selatan. Dan ketangguhan kekuatan tempur itu lambat laun hanya menjadi seperti mitos atau legenda pasca jatuhnya bung karno dan kini sang garuda perlahan telah mengepak sayapnya untuk melindungi langit nusantara dari segala ancaman yang mengganggu. Sang garuda perlahan tapi pastk mengembalikan panji-panji kekuatan yang dulu pernah tersohor di bumi bagian selatan. Harapan kami putra bangsa semoga di era pemerintahn pak Jokowi-JK kepak sayap sang garuda dapat menjangkau seluruh langit nusantara. Modernisasi angkatan udara menjadi sangat penting dan krusial, akuisi pespur su-35 1-2 skadron bukan hal yang tidak mungkin bagi indonesia dan merupakan jawaban atas tantangan dikawsan yang bisa saja kita dihajar dari 4 mata angin.


Selalu ada secercah harapan yang menanti, akan masa depan yang gemilang dari negara kita tercinta ini. Sikap skeptis dan pesimistis tentunya harus dibuang jauh-jauh. Dengan potensi ekonomi kita yang menunjukan kenaikan positif dari tahun ketahun, serta potensi SDM yang ulet dan dapat diandalkan ditambah SDA kita yang melimpah. Mestinya hanya masalah waktu sajalah untuk kita kembali mempunyai sebuah AU yang kuat dan disegani oleh negara-negara di kawasan. Sejarah pernah mencatat AURI pernah menjadi pemain kunci di kawasan, angkatan udara dari dulu sampai sekarang memiliki penerbang2 hebat dijamannya. Dan sejarah juga pernah membuktikan sang garuda pernah menjadi penguasa dirgantara di kawasan. Sukhoi Su-35, Siapa yang tidak gentar?.


Sumber : JKGR

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Coupons